• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Pasar Properti Asia Pasifik Diproyeksi Melambat

by Redaksi Asiatoday
October 11, 2019
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pasar Properti Asia Pasifik Diproyeksi Melambat

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi global yang belum kunjung mengalami perbaikan membuat pasar properti, terutama komersial, di sejumlah wilayah di Asia Pasifik juga turut terkena dampak lantaran ikut melambat.

Berdasarkan hasil riset Royal Institution of Chartered Surveyors (RICS) terhadap responden menunjukkan adanya kekhawatiran pada outlook negatif atas adanya ketidakpastian ekonomi. Namun, diperkirakan harga untuk properti sewa bisa tetap naik pada 2020.

Kekhawatiran akan perang dagang juga turut mempengaruhi pasar properti, salah satunya di Asia Timur. Pasalnya, dengan makin tegangnya tensi perang dagang antara China dan Amerika Serikat bisa membawa kekhawatiran bagi investor dan pembeli properti komersial.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

“Salah satu hambatan lainnya juga karena ada protes di Hong Kong. Ini membuat investor lari dari Hong Kong,” kata Alexander Aronsohn, RICS Director Technical Standards melalui laporan tertulis, yang dikutip Jumat (11/10/2019).

Namun, beberapa wilayah seperti Vietnam dan Thailand ternyata bisa mendapat keuntungan besar dari adanya perang dagang yang dialami China karena perusahaan di China akan melakukan relokasi pabrik-pabriknya agar tetap bisa berjalan dan memperluas rantai pasok ke Asia Tenggara.

Di Indonesia, sayangnya tidak menjadi tujuan perpindahan perusahaan China dalam menghadapi perang dagang. Beberapa peraturan terkait dengan tenaga kerja dan aturan tinggal untuk orang asing membuat China sedikit ragu untuk merelokasi usahanya ke Indonesia.

Adapun, RICS menegaskan bahwa pasar properti dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan tetap bergerak mendatar dan pertumbuhanya masih konstan, tidak naik, tidak turun.

Di Malaysia, kondisi pasar properti komersialnya sudah membaik pada kuartal II/2019 dibandingkan dengan pada kuartal sebelumnya. Namun, nilai harga sewa dan jual belum mengalami kenaikan yang signifikan setidaknya sampai tahun depan.

Di Jepang, Olimpiade Tokyo 2020 justru mendorong penjualan properti sehingga mencapai puncaknya dalam beberapa kuartal belakangan. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Asia PasifikAsia PropertyRICSRoyal Institution of Chartered Surveyors
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.