• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Perubahan Iklim Ancam Kelestarian Biodiversitas Laut Indonesia

by Redaksi Asiatoday
October 5, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Perubahan Iklim Ancam Kelestarian Biodiversitas Laut Indonesia

Ekosistem Terumbu Karang. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu negara maritim terbesar di dunia dengan lebih dari 70 persen wilayahnya merupakan area kelautan. Terletak di kawasan segitiga terumbu karang atau Coral Triangle Area, Indonesia memiliki jumlah dan nilai keanekaragaman hayati laut dan pesisir yang begitu kaya.
 
Menteri Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/ Kepala BRIN), Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, mengungkapkan, Indonesia memiliki lebih dari 90.000 km garis pantai, yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

Selain itu, saat ini Indonesia tercatat memiliki 16 spesies seagrass, 2118 spesies reef fish, 590 spesies stony corals, 45 spesies mangrove, 782 spesies macroalgae, 850 spesies sponges, 2.500 mollusca, 1500 crustacea, 745 spesies echinoderms dan masih banyak lagi.
 
Menurut Bambang, Sebagai pusat biodiversitas laut, Indonesia pun menjadi wilayah yang paling terancam kelestarian biodiversitasnya akibat perubahan iklim global.

“Perubahan iklim akan menyebabkan kondisi laut mengalami peningkatan suhu dan keasaman, anomali salinitas, dan penurunan kadar oksigen yang dapat berpengaruh signifikan pada penurunan jumlah dan kualitas hayati laut, oleh karena itu upaya perlindungan harus dimulai dari sekarang,” jelas Bambang dalam International Symposium on Coastal and Marine Biodiversity (ISCOMBIO) 2020 “Present and Future of Indonesian Coastal and Marine Biodiversity as a National Treasure” yang diselenggarakan baru-baru ini, dikutip dari LIPI, Senin (5/10/2020).
 
Bambang menegaskan, saat ini riset sangat penting dilakukan, bukan hanya untuk kepentingan ilmiah namun juga untuk melindungi biodiversitas pesisir dan kelautan dari kepunahan.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

“Kolaborasi adalah salah satu solusi yang sangat penting mengingat kurangnya ahli taksonomi kelautan di Indonesia, dan Indonesia sangat terbuka akan hal ini,” tambahnya.
 
Bambang juga menyampaikan, peran penting kolaborasi riset dan pemanfaatan fasilitas infrastruktur penelitian, seperti Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berada di Ambon, Maluku.

“Pemanfaatan infrastruktur riset laut dalam yang dimiliki LIPI sangat berperan penting. Saya harap, LIPI dapat terus memperluas jaringan dan kolaborasi dalam riset pengelolaan kekayaan hayati laut Indonesia,” tuturnya.
 
Sementara itu Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, menyatakan komitmen LIPI untuk terus berkontribusi dalam upaya penelitian, pelestarian dan pengelolaan ekosistem, dan keanekaragaman hayati laut dan pesisir Indonesia.

“LIPI berkomitmen untuk mendukung riset, pengembangan dan pengelolaan biodiversitas pesisir dan laut Indonesia dengan meningkatkan fasilitas dan infastruktur riset kelautan yang juga akan terus kita buka untuk dapat digunakan oleh publik,” terang Handoko.

Menurut Handoko, biodiversitas laut dan pesisir Indonesia yang begitu kaya, saat ini belum diiringi dengan eksplorasi, pengelolaan, dan pemanfaatan yang maksimal. Dalam hal ini, kolaborasi riset merupakan salah satu langkah yang sangat penting dan dibutuhkan.

Handoko mengungkapkan, masih banyak biodiversitas laut dan pesisir yang belum tereksplorasi.

“Kolaborasi para ahli baik dari nasional maupun internasional sangatlah penting untuk mendorong kajian ilmiah dan mendiskusikan persoalan kelautan, serta meningkatkan kemampuan dan pengetahuan yang diperlukan dalam pengelolaan biodiversitas laut dan pesisir,” tutup Handoko. (AT Network)

Tags: BiodiversityClimate ChangeKonservasi LautPerubahan IklimTerumbu Karang
No Result
View All Result

Terbaru

  • Vietnam Overtakes Thailand? Southeast Asia’s Tourism Powerhouse Is Shifting
  • ASEAN, Australia Deepen Strategic Partnership with High-Level Dialogue on Indo-Pacific Future
  • Chinese-Backed Nickel Smelter GNI Enters Court-Supervised Debt Restructuring in Indonesia
  • Indonesia Accelerates US$20 Billion Masela Gas Project to Reinforce Energy Security Amid Global Turmoil
  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.