• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Perubahan Iklim, Asam Laut Meningkat Ancam Jaringan Pangan dan Perikanan

by Redaksi Asiatoday
September 29, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Perubahan Iklim, Asam Laut Meningkat Ancam Jaringan Pangan dan Perikanan

Nelayan Penangkap ikan di Indonesia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perubahan iklim global telah memicu peningkatan suhu panas bumi dan keasaman lautan. Akibatnya, selain kadar oksigen pada air laut menurun, daya dukung laut terhadap kehidupan yang ada di dalamnya juga mengalami penurunan drastis.

Analisis dan temuan ini terungkap dalam laporan komprehensif dari Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti dikutip dari seafoodsource.com yang menyebutkan, seluruh jaringan pangan dan perikanan yang bergantung pada laut terancam oleh perubahan iklim.

Satu-satunya cara untuk menekan semakin parahnya gangguan yang terjadi akibat perubahan iklim adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca. Laporan tersebut juga mengungkapkan semakin tingginya risiko dan harga yang harus dibayar jika aksi penurunan gas rumah kaca terus ditunda.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Laporan IPCC diterbitkan pada 25 September lalu dan fokus pada efek perubahan iklim pada laut dan kriosfer (pemukaan bumi yang mengandung air dalam bentuk padat). Laporan itu menyebutkann konsekuensi perubahan iklim sudah jelas dan akan terus bertambah parah jika manusia tidak bertindak.

“Lautan dan krifosfer dunia selama ini menyerap pangan yang disebabkan perubahan iklim selama berpuluh-puluh tahun dan konsekuensi yang akan dirasakan alam dan manusia akan sangat parah,” terang Ko Barrett, vice-chair IPCC seperti dikuti dari Seafoodsource.com, Minggu (29/9/2019).

Sejauh ini, lautan telah menyerap 90% dari panas berlebih yang tercipta dalam sistem iklim. Sebagai akibatnya, suhu air yang lebih panas menyebabkan pencampuran lapisan air menjadi lebih sulit.

Di samping itu, suplai oksigen dan nutrisi untuk mendukung kehidupan di laut pun berkurang.

Lebih jauh lagi dijelaskan, 20 hingga 30 persen karbon diokasida yang teremisikan akibat aktivitas manusia sejak tahun 1980 juga diserap lautan yang menyebabkan peningkatan keasaman. Hal ini kemudian menghambat pertumbuhan kerang dan karang.

Sektor perikanan di seluruh belahan bumi juga harus menanggung akibat berupa pergeseran stok dan penurunan produktivitas yang lebih redah kendati konsekuensi yang dihadapi di tiap-tiap bagian bumi pasti berbeda.

Marine Stewardship Council pun mendesak pemerintah dan industri perikanan untuk mempertimbangkan efek perubahan iklim terhadap sektor perikanan.

Di Amerika, para nelayan merasa khawatir atas perubahan yang telah mereka saksikan di perairan.

Para nelayan di penjuru negeri merasakan efek perubahan iklim baik berupa badai yang menghancurkan infrastruktur perikanan dan masyarakat di pesisir atau ikan yang biasanya bisa ditemukan di daerah penangkapan yang saat ini malah bermigrasi untuk menemukan air dengan suhu lebih rendah.

“Efek lain, penurunan tangkapan sebagai efek dari penurunan kandungan biomassa yang drastis lantaran perubahan suhu laut, ujar Direktur Eksekutif Seafood Harvesters of America Leigh Habegger. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyClimate StrikePerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.