• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Perubahan Iklim Picu Intensitas Hujan Ekstrem di Indonesia

by Redaksi Asiatoday
January 3, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Perubahan Iklim Picu Intensitas Hujan Ekstrem di Indonesia

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan perubahan iklim meningkatkan intensitas curah hujan ekstrem. Kondisi ini yang menjadi salah satu penyebab banjir di Jabodetabek.

“Pengkajian data historis curah hujan harian BMKG selama 150 tahun (1866-2015), terdapat kesesuaian tren antara semakin seringnya kejadian banjir signifikan di Jakarta dengan peningkatan intensitas curah hujan ekstrem tahunan sebagaimana terjadi pada 1 Januari 2020,” terang Deputi Klimatologi BMKG Herizal, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (03/01/2020).

Dikatakan, curah hujan ekstrem lebih dari 150 mm/hari yang turun cukup merata di wilayah DKI Jakarta telah memicu banjir besar seperti 2015 dan 2007.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Data 43 tahun terakhir di wilayah Jabodetabek, curah hujan harian tertinggi per tahun mengindikasikan tren kenaikan intensitas 10-20 mm per-10 tahun.

Analisis statistik ekstrem data series 150 tahun Stasiun Jakarta Observatory BMKG untuk perubahan risiko dan peluang terjadinya curah hujan ekstrem penyebab kejadian banjir dengan perulangan sebagaimana periode ulang kejadian 2014, 2015, termasuk bila kejadian 2020 diperhitungkan, di Jakarta menunjukkan bahwa peningkatan 2-3 persen bila dibandingkan dengan kondisi iklim 100 tahun lalu.

“Hal ini menandakan hujan-hujan besar yang dulu jarang, kini lebih berpeluang kerap hadir pada kondisi iklim saat ini,” jelasnya.

Curah hujan ekstrem awal 2020 salah satu kejadian hujan paling ekstrem selama ada pengukuran dan pencatatan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya berdasarkan batasan persentil 99 persen dan 99,9 persen. Curah hujan ekstrem tertinggi selama ada pencatatan sejak 1866.

Hujan lebat berdurasi panjang mulai 31 Desember 2019 sore hingga 1 Januari 2020 pagi menyebabkan banjir cukup luas. Wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Barat tercatat sebagai wilayah paling luas terdampak, yaitu 65 dan 30 kelurahan.

Curah hujan ekstrem tertinggi juga terkonsentrasi di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Pengukuran BMKG menunjukkan curah hujan tertinggi tercatat di Bandara Halim Perdana Kusuma 377 mm/hari, di TMII 335 mm/hari, Kembangan 265 mm/hari, Pulo Gadung 260 mm/hari, Jatiasih 260 mm/hari, Cikeas 246 mm/hari, dan di Tomang 226 mm/hari.

Sebaran curah hujan ekstrem tersebut lebih tinggi dan lebih luas dari pada banjir-banjir sebelumnya, termasuk banjir Jakarta 2007 dan 2015.

Curah hujan 377 mm/hari di Halim Perdana Kusuma rekor baru sepanjang ada pencatatan hujan di Jakarta dan sekitarnya, sejak pengukuran pertama kali dilakukan pada 1866, zaman kolonial Belanda.

Analisis meteorologis pada 1 Januari 2020 menunjukkan penguatan alisan Monsun Asiavdan indikasi jalur daerah konvergensi massa udara/pertemuan angin monsun intertropis (ITCZ) tepat berada di atas wilayah Jawa bagian utara

ITCZ memicu pertumbuhan awan yang cepat, tebal, dan masif akibat penguapan dari lautan sekitar Pulau Jawa yang sudah menghangat dan menyuplai kelimpahan massa uap air bagi atmosfer di atasnya.

Analisis beberapa kejadian banjir besar di Jakarta pada masa lalu, misalnya pada 1918, 1979, 1996, 2002, 2007, 2013, 2014, dan 2015 memang dapat dikaitkan dengan curah hujan ekstrem 1-2 hari dan fenomena meteorologis yang membentuknya.

Beberapa aspek fenomena meteorologis yang biasanya menyertai curah hujan tinggi di Jakarta, dapat sebagai penyebab individual atau kombinasi antarbeberapa fenomena atmosfer sekaligus, di antaranya ITCZ, MJO, suhu muka laut lebih hangat, penguatan aliran monsun lintas ekuator, La Nina, dan seruakan dingin Asia (cold surge). (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Banjir IndonesiaBanjir JakartaClimate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.