• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

PM Inggris Boris Johnson Didesak Segera Mundur

by Redaksi Asiatoday
February 7, 2022
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Vaksin Covid-19 Harus Tersedia Secara Global untuk Semua Orang

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Ist

ASIATODAY.ID, LONDON – Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menghadapi desakan agar segera mundur dari jabatannya.

Menteri Bisnis Inggris Kwasi Kwarteng pada Minggu, 6 Februari 2022 menyatakan tidak dapat dihindari lagi bahwa PM Johnson harus mengundurkan diri. Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah dirinya memberi dukungan kepada Johnson terkait perilaku kontroversialnya.

Johnson dilanda krisis politik selama 3 bulan terakhir, dengan semakin banyaknya jumlah anggota parlemen dari partainya sendiri yang mengatakan sang perdana menteri sebaiknya mundur. Keadaan ini dimulai dari terungkapnya sejumlah pesta yang diadakan di kediaman Johnson saat lockdown pandemi covid-19.

RelatedPosts

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

“Saya tidak melihat apa yang dia lihat,” kata Kwarteng kepada Sky News, dilansir dari The Straits Times, Senin (7/2/2022).

Charles Walker, anggota parlemen senior dari Partai Konservatif yang sebelumnya setia pada pemerintahan Johnson, menyebut bahwa saat ini sudah “tidak dapat dihindari” bahwa partainya akan mencopot Johnson dari jabatan.

Selama sekian minggu, Johnson berjuang untuk mempertahankan pekerjaannya dengan mengatakan akan belajar dari kesalahan.

Namun, ia kembali diterpa masalah dalam kunjungannya ke Parlemen Inggris (House of Commons) pada Senin, 31 Januari 2022 untuk meminta maaf atas pesta yang telah membuat rakyat marah.

Saat itu, dirinya menuduh pemimpin oposisi, Keir Starmer, gagal mengadili seorang pelaku pelecehan seksual anak, Jimmy Savile, yang kini sudah meninggal dunia.

Kejadian itu tidak hanya mengejutkan anggota partainya sendiri, tetapi juga mengakibatkan pengunduran diri salah satu staf Johnson yang paling senior, dan kabar perpecahan kabinet menteri senior.

Hal tersebut terungkap setelah Menteri Keuangan Rishi Sunak menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin mengatakan hal seperti yang dikatakan Johnson.

Saat ditanya, Kwarteng mengatakan, Keir Starmer, pemimpin oposisi Partai Buruh, telah meminta maaf ketika menjabat sebagai direktur penuntutan publik atas kegagalan lembaganya dalam menjatuhkan tuntutan kepada pedofil Jimmy Savile, yang merupakan selebriti televisi.

Starmer secara pribadi tidak terlibat dalam keputusan tersebut.

“Permintaan maafnya menunjukkan bahwa dia, pada tingkatan tertentu, bertanggung jawab,” kata Kwarteng.

“Saya tidak mengatakan bahwa ia salah sebagai pribadi, tidak, kita sangat jelas tentang itu,” ungkapnya.

“Perdana Menteri juga telah mengklarifikasinya. Tapi saya pikir dalam berlangsungnya perdebatan, ketika orang berbicara tentang kepemimpinan dan tanggung jawab, membawa sesuatu yang Sir Keir sendiri telah minta maaf tentangnya, tampaknya masuk akal,” jelas Kwarteng.

Sementara itu, mantan pemimpin Partai Konservatif mengatakan kepada pihak yang menentang Johnson untuk mengurangi ambisi mereka. Karena, pemerintah perlu fokus untuk mendukung negara terkait krisis biaya hidup.

Sementara Duncan Smith, seorang anggota parlemen menyatakan, “dirinya tidak menyetujui untuk mendorong kita ke kekacauan pemungutan suara, yang diikuti oleh pemilihan umum pemimpin”.

“Itu akan menjadi salah saat saya pikir masyarakat umum Inggris memiliki hak untuk (mengatakan) kami memilih Anda dua tahun yang lalu. Tetapi kita tidak memilih Anda untuk duduk diam saja, sementara penghasilan kami tidak cukup untuk menanggung biaya hidup,” pungkas Smith. (ATN)

Tags: InggrisUnited Kingdoms
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.