• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Polusi Udara Membunuh Lebih Cepat, Terparah di Asia Selatan

by Redaksi Asiatoday
June 15, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
Polusi Udara Beracun Selimuti Ibu Kota India

Polusi Udara Beracun Selimuti Ibu Kota India. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebuah riset terbaru yang diterbitkan diterbitkan pada hari Selasa (14/6/2022) oleh Institut Kebijakan Energi Universitas Chicago (EPIC) yang mengukur Indeks Kehidupan Kualitas Udara, menyuguhkan fakta mengerikan.

Pasalnya, polusi udara kronis bisa membunuh lebih cepat pada setiap orang terpapar. Artinya, polusi udara memangkas rata-rata harapan hidup global lebih dari dua tahun per orang. Dampak polusi ini sebanding dengan bahaya merokok dan jauh lebih buruk daripada HIV/AIDS.

Lebih dari 97 persen populasi global tinggal di daerah di mana polusi udara melebihi tingkat yang direkomendasikan, yakni tingkat PM2,5, partikel mengambang yang merusak paru-paru yang berbahaya.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Namun jika tingkat PM2,5 global dikurangi menjadi 5 mikrogram per meter kubik yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), harapan hidup akan meningkat rata-rata 2,2 tahun.

Polusi udara telah diabaikan sebagai masalah kesehatan masyarakat, dengan dana untuk mengatasi masalah tersebut masih belum memadai. Demikian studi tersebut memperingatkan.

“Sekarang pemahaman kita tentang dampak polusi telah meningkat, ada alasan yang lebih kuat bagi pemerintah untuk memprioritaskannya sebagai masalah kebijakan yang mendesak,” kata Christa Hasenkopf, Direktur Indeks Kehidupan Kualitas Udara EPIC, dalam laporannya itu.

Penduduk Asia Selatan diperkirakan kehilangan 5 tahun kehidupan akibat kabut asap, kata studi tersebut, dengan India menyumbang sekitar 44 persen dari peningkatan polusi udara dunia sejak 2013.

Penduduk China bisa hidup rata-rata 2,6 tahun lebih lama jika standar WHO tercapai, meskipun harapan hidup telah meningkat sekitar dua tahun sejak 2013, ketika negara itu memulai “perang melawan polusi” yang memangkas PM2,5 sekitar 40 persen.

Perhitungan EPIC didasarkan pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa paparan berkelanjutan terhadap tambahan 10 mikrogram per meter kubik PM2.5 akan mengurangi harapan hidup hampir satu tahun.

Tidak ada satu pun negara yang berhasil memenuhi standar 5 mikrogram WHO pada tahun 2021, menurut survei data polusi yang diterbitkan awal tahun ini. (ATN)

Tags: Institut Kebijakan Energi Universitas ChicagoPolusi di AsiaPolusi Udara
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Accelerates US$20 Billion Masela Gas Project to Reinforce Energy Security Amid Global Turmoil
  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.