• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Potensi Geothermal Indonesia Capai 23,9 GW, Belum Tergarap Optimal

by Redaksi Asiatoday
September 8, 2020
in GREEN ENERGY
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pembangkit Geothermal Sorik Marapi Mampu Menghemat Rp129 Miliar per tahun

PLTP Sorik Marapi. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus berpacu menciptakan terobosan dalam rangka meningkatkan investasi pengembangan panas bumi (Geothermal) di Indonesia.  

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif, energi panas bumi merupakan salah satu tulang punggung suplai energi nasional di masa depan.  

Indonesia memiliki potensi sumber panas bumi mencapai 23,9 gigawatt (GW).  

RelatedPosts

Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT

Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race

Asia’s Green Transition Gets $163 Billion Climate Finance Boost

Dengan potensi ini, pemerintah menargetkan kapasitas terpasang pembangkit panas bumi dapat mencapai sekitar 7.241,5 megawatt (MW) pada 2025 untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen.

“Potensi Geothermal kita sangat besar, namun sayangnya, kapasitas terpasang panas bumi saat ini hanya mencapai 2,13 GW. Artinya, pemanfaatannya hanya 8 persen dari total potensi yang ada. Pemanfaatan panas bumi masih terbuka lebar dan perlu usaha yang luar biasa untuk mencapai target yang ditetapkan. Ke depan, yang lebih penting sangat dibutuhkan sinergi dengan berbagai stakeholder,” papar Arifin di forum Digital Indonesia International Geothermal Convention (DIIGC) 2020, Selasa (8/9/2020).

Menurut Arifin, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan panas bumi, diantaranya optimalisasi pemanfaatan panas bumi di dalam kawasan hutan konservasi, kelayakan proyek panas bumi, akses pendanaan, dan isu sosial.  

Di sisi lain, biaya pengembangan panas bumi di Indonesia masih relatif tinggi.

“Kondisi ini mempengaruhi daya saing industri panas bumi kita,” imbuh Arifin.

Untuk mengakselerasi pengembangan panas bumi di Indonesia, pemerintah terus menciptakan sejumlah terobosan dengan menyediakan insentif fiskal, seperti tax allowance, pembebasan pajak bumi dan bangunan.  

Pemerintah juga melakukan pengeboran untuk eksplorasi panas bumi (government drilling) guna meminimalisasi risiko yang ditanggung pengembang.

“Saat ini pemerintah sedang merancang ulang regulasi tarif untuk meningkatkan investasi EBT termasuk pengembangan panas bumi,” tandas Arifin. (ATN)

Tags: Energi Baru TerbarukanEnergi HijauEnergi Panas BumiGeothermal
No Result
View All Result

Terbaru

  • Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network
  • OPEC+ Builds New Energy Alliance
  • AMMAN Targets 16 Tons of Gold Output in 2026
  • Saudi Arabia’s New Tariffs Create Fresh Opportunities for Indonesia’s Export Growth
  • Gold’s Safe-Haven Era Faces a New Test
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.