ASIATODAY.ID, TAIPEI – Taiwan menyuarakan protes keras atas tindakan beberapa negara yang melakukan intimidasi ekonomi terhadap anggota Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO).
Protes itu disampaikan Menteri Tanpa Portofolio Taiwan, Deng Chen-chung, dalam pertemuan WTO Tingkat Menteri (WTO MC) ke-12 yang berlangsung pada tanggal 12-15 Juni 2022 di Jenewa, Swiss. Pertemuan ini turut dihadiri oleh lebih dari 200 organisasi non-pemerintah (NGO) dari 50 negara, seperti AFL-CIO, Konfederasi Industri India, Doctors Without Borders (MSF), dan lain-lain.
“Kami menolak tindakan intimidasi ekonomi, dan meminta berbagai negara untuk menaati ketentuan WTO, serta terus memperjuangkan hak terhadap penjualan produk nanas, jambu air, srikaya dan ikan kerapu Taiwan,” seru Deng, dikutip dari siaran pers Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan, Rabu (15/6/2022).
Selain itu, WTO juga perlu menyelesaikan lebih banyak masalah melalui perjanjian plurilateral secara efektif.
“Perjanjian FTA dan integrasi ekonomi sedang berkembang pesat, dan untuk itu Taiwan sudah mengajukan aplikasi untuk bergabung dengan CPTPP,” kata Deng Chen-chung.
Selain soal ekonomi dan perdagangan, topik lain yang menjadi pembahasan dalam pertemuan kali ini adalah pelaksanaan pencegahan krisis kesehatan darurat dan pengontrolan terhadap manusia dan barang, ketersediaan pasokan vaksin, peralatan pencegahan pandemi perorangan, obat-obatan, dan pangan, serta keamanan masyarakat secara global, industri perikanan berkelanjutan, dan evaluasi terhadap mekanisme WTO agar dapat menghadapi tantangan global dalam generasi selanjutnya.
Deng Chen-chung menjelaskan bahwa Taiwan bersedia untuk berpartisipasi dalam penyelesaian masalah di tengah pandemi, dan berharap komunitas internasional dapat bersikap adil, serta memperhatikan kesempatan yang seharusnya diberikan kepada Taiwan untuk berpartisipasi.
“Semua negara harus mempelajari pandemi Covid-19, dan mencari metode untuk mengatasi terjadinya krisis serupa di masa depan,” imbuhnya.
Taiwan bersama anggota WTO lainnya juga mengeluarkan pernyataan bersama berisi dukungan terhadap Ukraina, dan meminta WTO untuk mendayagunakan fungsinya dalam melindungi mata pencaharian dan keselamatan manusia dalam situasi genting seperti pandemi, dan invasi Rusia terhadap Ukraina. (ATN)
