• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Ramai-ramai Menggugat China karena Lalai Mencegah Wabah Covid-19

by Redaksi Asiatoday
April 21, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Imbas Wabah Corona, China Kini Diisolasi oleh Dunia  

Negeri China. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pengacara di Amerika Serikat meluncurkan tindakan hukum yang menuntut China membayar triliunan dolar atasi pandemi global coronavirus (Covid-19) yang terjadi.

Gugatan class action yang melibatkan ribuan penggugat dari 40 negera itu menuntut ganti rugi dengan tuduhan para pemimpin China telah lalai membiarkan wabah pandemi terjadi dan juga menutupi informasi yang dimiliki.

Tuduhan lainnya yang dilayangkan ke China juga terjadi atas nama petugas medis dan kesehatan yang menuduh negara Tirai Bambu itu telah menimbun persediaan medis yang diperlukan dalam penanganan pandemi Covid-19.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Adanya tantangan hukum terkait wabah ini meningkatkan tekanan pada Persiden China Xi Jinping untuk bertanggung jawab penuh atas tindakan yang dilakukan oleh pemerintahan negaranya.

United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa) juga menyerukan untuk mengadakan penyelidikan guna mengetahui bagaimana virus corona itu bisa menyebar di kota Wuhan, China dan dalam waktu singkat meluas ke seluruh negara di dunia.

Langkah ini mengikuti peringatan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Dominic Raab pada pekan lalu. Dia menyatakan bahwa hal ini tidak bisa dianggap enteng setelah adanya krisis global dari pandemi Covid-19.

Pada akhirnya, China menghadapi tuduhan sengit bahwa mereka telah menekan informasi dan data, memblokir beberapa tim ahli kesehatan masyarakat dari luar, dan membungkam para dokter yang berusaha memperingatkan tentang epidemi ini.

Hingga saat ini, masih belum diketahui apakah sumber virus itu adalah pasar yang menjual hewan-hewan hidup seperti yang diklaim oleh China, atau ada keterkaitan dengan masalah keamanan yang ada di laboratorium virologi Wuhan seperti yang dituduhkan banyak pihak.

Klaim hukum dari Amerika Serikat diluncurkan oleh Berman Law Group, sebuah perusahaan yang berbasis di Miami.

Chief Strategist Berman Law Group, Jeremy Alters mengatakan bahwa para pemimpin China harus bertanggung jawab atas tindakan mereka.

“Tujuan kami adalah untuk mengungkp kebenaran. Tiga tahun lalu, firma memenangkan kasus USD1,2 miliar melawan China atas pembuatan bahan bangunan yang rusak,” katanya dilansir Daily Mail, Senin (20/4/2020).

Ia memandang, kendati negara memiliki kekebalan hukum tetapi ada pengecualian di bawah hukum Amerika Serikat untuk kerusakan pribadi atau properti dan untuk tindakan di luar negeri yang berdampak pada bisnis di perbatasan mereka sendiri.

Penggugat lainnya termasuk Olivier Babylone, seorang agen perumahan dari Croydon, Inggris yang pendapatannya turun dua per tiga dan dirinya harus di rawat di rumah sakit pada awal bulan ini karena virus corona.

Ada juga Lorraine Caggiano, administrator dari New York yang mengidap virus bersama dengan sembilan anggota keluarga lainnya setelah menghadiri sebuah pesta pernikahan.

Dia menyebut tindakannya ini bukan untuk uang, tetapi menjadi gerakan simbolis untuk melawan.

Sementara itu, pengacara hak asasi manusia Inggris, Geoffrey Robertson menyerukan agar PBB mengatur penyelidikan tentang asal usul Covid-19.

Menurutnya, hal ini perlu dilakukan sebab World Health Organization (WHO) telah gagal dalam tugasnya terkait penanganan pandemi.

Robertson yang juga mantan hakim banding di PBB mengatakan bahwa konsekuensi dari tidak menangani virus pada tahap awal telah menjadi bencana dan fakta-fakta yang ada mengalami distorsi oleh propagandan dan penilaian politik.

“Atasnama kesejahteraan internasional, kami menuntut laporan yang independen dan obyektif tentang bencana ini. Bukan untuk mengalokasikan kesalahan tetapi untuk menulis sejarah yang sebenarnya dan belajar dari pengalaman,” tandasnya. (ATN)

Tags: ChinaChina VirusClass ActionCoronavirusCOVID-19
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.