ASIATODAY.ID, JAKARTA – Tanaman hias Indonesia menjadi salah satu komoditi yang digemari oleh pasar global.
Selain untuk kebutuhan industri farmasi, tanaman hias Indonesia juga banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan momen perayaan hari spesial.
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia ( LPEI ) /Indonesia Eximbank Institute, mencatat, selama periode Januari-September 2021, Jepang tercatat sebagai negara tujuan ekspor utama tanaman hias asal Indonesia dengan pangsa sebesar 32,23% diikuti Singapura (15,55%), Amerika Serikat (13,12%), Belanda (13,03%), dan China (5,60%).
Secara keseluruhan, ekspor tanaman hias Indonesia mencatatkan kenaikan yang signifikan, mencapai 69,7% pada periode Januari hingga September 2021 dibanding periode di tahun sebelumnya.
Nilainya mencapai USD10,77 juta atau sekitar Rp152,9 miliar.
Menurut Rini Satriani, Kepala Divisi pemasaran Indonesia Eximbank Institute, aktivitas masyarakat dunia yang berangsur aktif memberikan dampak positif untuk ekspor tanaman hias Indonesia.
“Komponen ekspor tanaman hias Indonesia ini didominasi oleh produk bunga dan kuncup bunga potong segar dengan porsi sebesar 26,92%, diikuti oleh lumut mosse dan lichen (22,54%), serta tanaman hias jenis lainnya (50,53%),” ungkap Rini di Jakarta, Rabu (29/12/2021).
Peningkatan nilai ekspor tanaman hias Indonesia pada periode Januari-September 2021 didorong oleh permintaan Jepang sebesar 31,72% yoy menjadi USD3,47 juta.
Jepang banyak mengimpor produk lumut moss– lichen.
Rini menjelaskan tanaman ini diketahui memiliki kandungan nutrisi yang dapat mengobati bronkitis, asma, jantung, lambung, antivirus, antioksidan hingga anti kanker.
“Industri farmasi di Jepang yang memanfaatkan nutrisi dalam tumbuhan tersebut meningkatkan potensi ekspor bagi Indonesia,” katanya.
Selanjutnya, pertumbuhan nilai ekspor turut didorong oleh Singapura sebesar 97,37% yoy atau menjadi USD1,67 juta.
Ekspor ke Negeri Singa berupa produk tanaman cangkok dan bunga potong, imbas meningkatnya permintaan karangan bunga utuk berbagai perayaan.
Secara historis, impor bunga dunia memang memiliki kecenderungan tren meningkat pada bulan-bulan (menjelang) sejumlah perayaan penting dan keagamaan, seperti hari kasih sayang, hari ibu dan Natal. (ATN)
