• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Tuesday, July 14, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Terpapar Polutan, Ribuan Spesies Anjing Laut Mati di Namibia

by Redaksi Asiatoday
October 26, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Terpapar Polutan, Ribuan Spesies Anjing Laut Mati di Namibia

Spesies anjing laut di Namibia, Afrika Selatan. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kematian massal satwa anjing laut terjadi di Namibia.

Para ahli konservasi memperkirakan, ada lebih dari 7.000 spesies anjing laut berbulu mengalami kematian di Namibia Tengah, Afrika Selatan.

Ahli Konservasi Laut Namibia (OCN) Naude Dreyer mulai menemukan anjing laut mati di pantai koloni Pelican Point pada bulan September lalu.

RelatedPosts

Pacific Climate Crisis: Papua’s Last Glacier Nears Extinction

Indonesia Leads Southeast Asia’s Push for Deep-Sea Research Independence

Australia and Indonesia Lead Regional Ocean Conservation Initiative

Pelican Point merupakan tempat wisata yang terkenal dengan koloni anjing laut dan sekolah lumba-lumba dekat Teluk Walvis.

Pada dua minggu pertama bulan Oktober, Dreyer menemukan sejumlah besar janin di koloni.

Proyek Lumba-lumba Namibia Tess Gridley memperkirakan antara 5.000 hingga 7.000 anjing laut betina telah mengalami keguguran muda dan memperkirakan hal serupa akan bertambah.

Menurut Dreyer, pekan lalu ada lonjakan jumlah anjing laut betina dewasa yang mati.

“Apa yang kami amati adalah bangkai anak anjing laut dan banyak anjing laut betina yang mati,” jelasnya dilansir dari Aljazeera, Senin (26/10/2020).

Biasanya kata dia, anjing laut melahirkan antara pertengahan November dan pertengahan Desember.

Sejauh ini, penyebab kematian massal satwa langka ini masih belum dipastikan tapi para ilmuwan menduga, kematian spesies ini akibat terpapar polutan atau infeksi bakteri hingga malnutrisi.

Gridley mengungkapkan, sebagian induk ditemukan tampak kurus dengan cadangan lemak yang tampak sedikit.

Pada tahun 1994, sekitar 10.000 anjing laut mati dan 15.000 janin diaborsi dalam kematian massal yang dikaitkan dengan kelaparan yang diduga disebabkan oleh kekurangan ikan serta infeksi bakteri dan koloni pengembangbiakan lain, Cape Cross, sekitar 116 km utara dari pusat kota wisata Swakopmund.

Direktur Eksekutif Kementerian Perikanan dan Sumber Daya Kelautan Afrika Selatan, Annely Haiphene menduga anjing laut mati karena kekurangan makanan tetapi akan menunggu hasil tes. (ATN)

Tags: Konservasi LautKonservasi SatwaNamibian SealPolutanSave MarineSave Ocean
No Result
View All Result

Terbaru

  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • Freeport’s Grasberg Recovery: 21 Tonnes of Gold Target in 2026
  • Japan’s Takeda Places US$30 Million Bet on Indonesia’s Biopharma Ambition
  • ASEAN’s Chip Race: Indonesia and Malaysia Forge New Semiconductor Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.