• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Turki Menentang Sanksi Negara Barat Terhadap Rusia

by Redaksi Asiatoday
March 7, 2022
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Turki Menentang Sanksi Negara Barat Terhadap Rusia 1

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Tayyip Erdogan saat berbicara melalui telepon. Dok

ASIATODAY.ID, ANKARA – Presiden Turki Tayyip Erdogan mengungkapkan keprihatinannya atas invasi Rusia ke Ukraina.

Keprihatinan itu disampaikan Erdogan saat berkomunikasi selama satu jam melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Minggu (6/3/2022).

Dalam pembicaraan itu, Erdogan menegaskan bahwa ia menentang sanksi negara-negara barat terhadap Moskow seraya mendesak Putin untuk mengumumkan gencatan senjata di Ukraina, serta membuka koridor kemanusiaan dan menandatangani perjanjian damai.

RelatedPosts

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Sebagai anggota NATO, Turki dan Rusia termasuk Ukraina berbagi perbatasan di Laut Hitam dan memiliki hubungan baik dengan keduanya.

Ankara menyebut invasi Rusia tidak dapat diterima dan menawarkan untuk menjadi tuan rumah perundingan kedua pihak.

Dalam sebuah pernyataan setelah panggilan telepon satu jam, kepresidenan Turki mengatakan Erdogan mengatakan kepada Putin bahwa Turki siap untuk berkontribusi pada penyelesaian konflik secara damai.

“Presiden Erdogan, yang mengatakan gencatan senjata segera tidak hanya akan meredakan keprihatinan kemanusiaan di kawasan itu, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pencarian solusi politik, memperbarui seruannya ‘mari kita buka jalan bagi perdamaian bersama’,” demikian siaran pers kantor kepresidenan Turki.

“Erdogan menekankan pentingnya mengambil langkah-langkah mendesak untuk mencapai gencatan senjata, membuka koridor kemanusiaan dan menandatangani perjanjian damai,”

Sementara itu, Kremlin menyebut, Putin mengatakan kepada Erdogan bahwa Rusia hanya akan menghentikan operasi militernya jika Ukraina berhenti berperang dan jika tuntutan Moskow dipenuhi.

Rusia menyebut serangannya ke Ukraina bukan invasi  melainkan sebagai “operasi militer khusus”. Namun operasi itu telah menyebabkan lebih dari 1,5 juta orang terpaksa meninggalkan Ukraina.

PBB menyatakan, hal itu sebagai krisis pengungsi yang tumbuh paling cepat di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Turki mengatakan akan “naif” untuk mengharapkan hasil dari negosiasi Ukraina-Rusia saat pertempuran berlanjut.

Menteri Pertahanan Hulusi Akar kemudian berbicara dengan timpalannya dari Ukraina Oleksii Reznikov melalui telepon, dan mengatakan kepadanya bahwa gencatan senjata, bahkan untuk waktu yang terbatas, sangat dibutuhkan untuk evakuasi sipil yang aman dan pengiriman bantuan.

Ditambahkan bahwa Akar juga telah menyampaikan harapan Turki agar keselamatan warga Turki yang belum dievakuasi terjamin.

Erdogan, yang menyebut Putin sebagai “teman”, terakhir kali berbicara dengan pemimpin Rusia itu pada 23 Februari, sehari sebelum Rusia melancarkan invasi.

Seruan itu menjadikan Erdogan pemimpin NATO ketiga yang berbicara dengan Putin sejak serangannya. Ia mengikuti langkah para pemimpin Jerman dan Prancis yang berkomunikasi dengan Kremlin.

Turki menjalin hubungan dekat dengan Rusia dalam hal pertahanan, perdagangan dan energi, dan menampung jutaan turis Rusia setiap tahunnya. Turki juga telah menjual drone ke Ukraina, yang membuat marah Moskow, dan menentang kebijakan Rusia di Suriah dan Libya, serta pencaplokan Crimea pada tahun 2014. (Reuters)

Tags: Krisis Ukraina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.