• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Permukaan Air Laut Global Terus Naik, Kehidupan Pesisir di Bumi Kian Terancam

by Redaksi Asiatoday
September 3, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Permukaan Air Laut Global Terus Naik, Kehidupan Pesisir di Bumi Kian Terancam

Gelombang laut di wilayah pesisir Greenland, tepatnya Islandia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para ilmuwan di dunia terus menyerukan bahwa kenaikan permukaan laut di planet bumi saat ini sejalan dengan skenario terburuk dari prediksi iklim global.

Para ahli memperingatkan ini sebagai hal yang mengerikan bagi umat manusia di Bumi.

Sejak 1990-an, permukaan air laut telah naik 1,8 centimeter (cm) saat Bumi memanas dan lapisan es kutub mencair. Meski pengukurannya mungkin tampak kecil, tapi kenaikan 1 cm permukaan laut dapat mengakibatkan 1 juta orang mengungsi.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Menurut Andy Shepherd, Direktur Pusat Pengamatan dan Pemodelan Universitas Leeds, kenaikan permukaan laut 1,8 cm ini sejalan dengan prediksi skenario kasus terburuk dari Intergovernmental Panel on Climate Change.

Sebuah studi yang dilakukan Universitas Leeds dan Institut Meteorologi Denmark menemukan bahwa jika tren saat ini berlanjut, kenaikan permukaan laut setinggi 17 cm dapat terjadi pada akhir abad ini. Hal tersebut akan memaksa hampir 20 juta orang di seluruh dunia meninggalkan rumah mereka.

Penelitian juga menemukan bahwa pencairan es dari Antartika telah mendorong permukaan laut global naik sekitar 7,2 milimeter. Sementara, laporan dari jurnal Nature Climate Change menyebut pencairan es dari Greenland menyumbang sekitar 10,6 mm.

Tom Slater, peneliti iklim di Pusat Pengamatan Kutub dan Pemodelan Universitas Leeds mengatakan bahwa di luar antisipasi pemanasan lautan dan atmosfer yang ada, pencairan es telah terjadi dengan cepat dan melebihi apa yang dibayangkan oleh manusia sebelumnya.

“Pencairan itu melampaui model iklim yang digunakan sebagai guidance, dan kita berada dalam bahaya karena tidak siap menghadapi risiko yang bisa ditimbulkan oleh kenaikan permukaan laut ini,” jelasnya disitat dari Express UK, Kamis (3/9/2020).

Anna Hogg, peneliti iklim di Sekolah Bumi dan Lingkungan di Leeds mengatakan jika kehilangan lapisan es terus mengikuti skenario terburuk pemanasan iklim, manusia hanya bisa mengharapkan tambahan kenaikan permukaan laut terjadi dari lapisan es saja.

Menurutnya, hal itu saja cukup untuk menggandakan frekuensi gelombang badai banjir di banyak kota pesisir terbesar di dunia. Hal ini tentunya berdampak langsung pada masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pantai.

Sejak 1990-an, sebagian penyebab terjadinya lonjakan permukaan laut adalah karena proses yang dikenal sebagai ekspansi termal. Disinilah air sedikit mengembang saat semakin hangat, mendorong permukaan laut sedikit naik.

Namun dalam lima tahun terakhir, pencairan gletser menjadi kekuatan dominan dari fenomena naiknya permukaan laut global.

Ruth Mottram, peneliti iklim di Institut Meteorologi Denmark mengatakan bahwa penyebabnya tak hanya karena Antartika atau Greenland saja.

“Dalam beberapa tahun terakhir, ribuan gletser kecil mulai mencair atau menghilang sama sekali, seperti yang kita lihat dengan gletser OK di Islandia, yang dinyatakan hilang pada 2014. Artinya, pencairan es kini telah mengambil alih penyumbang utama kenaikan permukaan laut,” paparnya.

Pemanasan global berkontribusi pada hilangnya lapisan es di lingkaran Arktik dan Antartika. Para peneliti juga percaya bahwa Greenland bisa menjadi satu satu yang terkena dampak paling parah.

Lapisan es di Greenland memiliki ketebalan hingga 3 kilometer di tempat-tempat tertentu, mencakup area dengan luas tujuh kali lebih besar dari Inggris. Jika semua es ini mencair, permukaan laut bisa naik hingga 7 meter.

Model iklim yang ada telah menunjukkan kenaikan permukaan laut lebih dari 2 meter dapat secara permanen menenggelamkan sebagian besar garis pantai Inggris, dengan orang orang Hull, Peterborough, Portsmouth, dan sebagian London terancam. (ATN)

Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyGlobal WarmingPerubahan IklimSave Earth
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.