• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 13, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Dewan Pers Indonesia Soroti Belanja Iklan Global Hanya Dikuasai 3 Korporasi

by Redaksi Asiatoday
February 9, 2021
in Business
Reading Time: 1 min read
A A
0
Dewan Pers Indonesia Soroti Belanja Iklan Global Hanya Dikuasai 3 Korporasi

Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Dewan Pers Agus Sudibyo. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Dewan Pers Indonesia menyoroti belanja iklan global yang hanya dikuasai segelintir korporasi.

Pasalnya, 56 persen belanja iklan global hanya dikuasai oleh Google atau Alphabet, Facebook dan Amazon. Sementara, 41 persen sisanya diperebutkan oleh ribuan media massa, baik cetak, radio maupun televisi.

Menurut Dewan Pers, fenomena ini menyebabkan surplus pemusatan ekonomi yang belum pernah terjadi dalam sejarah.

RelatedPosts

Bank Jakarta and Blibli Launch Engagement Store at Jakarta Fair 2026

Indonesian Cooperatives Minister Backs Cooperative-Led Sugarcane Downstreaming

Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange

Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Dewan Pers Agus Sudibyo mengatakan, penguasaan lebih dari separuh belanja iklan secara global oleh tiga perusahaan raksasa dunia sangat berdampak pada industri media massa di Indonesia.

“Dewan Pers mendorong ada intervensi negara untuk membantu perusahaan pers nasional. Google dianggap sebagai perusahaan tidak lazim lagi, karena begitu besar kekuatannya, begitu besar potensinya, skala leverage dan begitu besar pengaruhnya,” kata Agus dikutip, Selasa (9/2/2021).

Menurut Agus, saking hebatnya, ketiga perusahaan itu dapat melakukan surveillance dan perusahaan mampu mengubah arah politik berbagai negara.

“Situasi ini tidak bisa dianggap enteng. Butuh kerja sama yang baik antara pemilik media dengan regulator atau pemerintah. Intervensi negara dibutuhkan, bukan untuk lawan Google dan Facebook, tapi untuk membuat Facebook dan Google itu tidak melakukan monopoli, pemusatan ekonomi yang berlebihan. Dalam konteks inilah muncul dorongan publik untuk membuat regulasi hak pengelola media terkait dengan proses agregasi berita,” paparnya.

Agus kemudian memberikan tips dalam rangka menghadapi Google dan Facebook.

“Pertama, pelajari seluk beluk negosiasi dengan platform digital. Kedua, membangun soliditas di antara pengelola media dan ketiga, berdialog dengan platform digital pelajari regulasi yang telah ada,” tandasnya. (ATN)

Tags: Amazon IncDewan PersFacebookGoogle
No Result
View All Result

Terbaru

  • Bank Jakarta and Blibli Launch Engagement Store at Jakarta Fair 2026
  • Mass Student Protest Erupts in Indonesia Over Cost-of-Living Crisis
  • Indonesian Navy Intercepts Billion-Dollar Rare Earth Shipment With Radioactive Content
  • Indonesian Students Revive Reform-Era Protests, Mounting Pressure on Prabowo Government
  • Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.