• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Asia Ditarget Akhiri Pembangkit Batubara 15 Tahun Lebih Cepat

by Redaksi Asiatoday
August 5, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
AS Akui Tertinggal Jauh dari China dalam Aksi Iklim Global

Polusi dan emisi karbon yang bersumber dari pembangkit listrik batubara Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Krisis iklim global telah mendorong Lembaga – Lembaga internasional bergerak lebih cepat dalam upaya menekan emisi karbon di atmosfer.

Sejumlah lembaga keuangan global, mulai dari Citigroup Inc., HSBC Holdings Plc, Asian Development Bank (ADB), Prudential Plc, hingga BlackRock Inc, sedang menyusun rencana untuk membantu mempercepat penghentian operasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di Asia, termasuk Indonesia.

Laporan Bloomberg, Rabu (4/8/2021), proposal yang dipimpin oleh Asian Development Bank (ADB) dan Prudential itu berencana menciptakan skema pembelian PLTU di negara berkembang di Asia dan menghentikannya dalam waktu 15 tahun, lebih cepat dari jadwal saat ini. Rencana tersebut pertama kali dilaporkan oleh Reuters.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

“Dunia tidak mungkin mencapai target iklim Paris kecuali kita mempercepat penghentian dan penggantian listrik berbahan bakar batubara yang ada. Ini terutama di Asia di mana armada batubara yang ada besar dan muda, jika tidak dihentikan akan beroperasi selama beberapa dekade,” ujar Don Kanak, Chairman Prudential Insurance Growth Markets.

Dengan mengakuisisi dan menjalankan pembangkit listrik dengan biaya modal yang lebih rendah daripada yang saat ini tersedia untuk operator komersial, ADB dan mitra akan dapat menghasilkan keuntungan serupa dalam periode yang lebih singkat, memfasilitasi penutupan aset lebih awal, menurut laporan Reuters.

Wakil Presiden ADB untuk Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik Ahmed M Saeed mengatakan, pendanaan untuk mekanisme transisi energi tersebut diharapkan datang dari lembaga publik dan swasta namun hingga kini target belum ditetapkan.

Pemberi pinjaman saat ini sedang berdiskusi dengan pemerintah di Vietnam, Indonesia, dan Filipina mengenai proposal tersebut, kata Saeed, dan kemungkinan akan ada pilot akuisisi PLTU tahun depan.

ADB berencana untuk mulai mengumpulkan dana pada konferensi iklim COP26 pada November mendatang.

Menurutnya, agar rencana itu berhasil, negara-negara perlu berkomitmen untuk tidak mengganti penggunaan batubara yang dihilangkan dengan bahan bakar fosil lainnya. Jangka waktu untuk menutup aset PLTU akan memungkinkan perencanaan yang memadai dan membantu menghindari konsekuensi seperti daerah miskin yang tiba-tiba kehilangan akses ke pemanas.

Don Kanak menyebut proposal tersebut akan memungkinkan negara-negara berkembang untuk membuat kemajuan besar dalam mencapai target iklim dalam 10-15 tahun ke depan.

Sementara itu, pihak Citi dan BlackRock menolak berkomentar terkait hal ini. HSBC juga tidak segera menanggapi permintaan komentar Bloomberg melalui email. (ATN)

Tags: Climate ActionEmisi KarbonGreen EnergyKrisis IklimParis Agreement
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.