• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Peneliti Lintas Negara Temukan Spesies Baru Cecak Jarilengkung di Kalimantan

by Redaksi Asiatoday
October 9, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Peneliti Lintas Negara Temukan Spesies Baru Cecak Jarilengkung di Kalimantan

Vegetasi hutan di Kalimantan. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia, tak heran pulau ini masih banyak menyimpan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang belum terungkap.

Awal Riyanto, Peneliti Zoologi dari Museum Zoologicum Bogoriense beserta kolega dari lintas negara Jepang (Kyoto University dan University of Hyogo), USA (La Sierra University) dan Indonesia (Universitas Brawijaya dan MZB) berhasil merilis hasil temuan spesies baru, Cyrtodactylus hamidyi  (Cecak Jarilengkung hamidy) pada jurnal Zootaxa yang terbit pada 25 Agustus yang lalu.

Peneliti Lintas Negara Temukan Spesies Baru Cecak Jarilengkung di Kalimantan 1
Spesies Baru Cecak Jarilengkung. Dok LIPI

“Nama hamidy ini kami sematkan sebagai penghormatan dan penghargaan kami kepada Dr. Amir Hamidy salah satu herpetologis Indonesia, atas dedikasinya dalam mengajarkan dan memasyarakatkan herpetologi kepada kaum muda Indonesia, serta kontribusi signifikan  beliau terhadap pengungkapan keanekaaragaman dan konservasi herpetofauna Indonesia. Kebetulan beliau juga peneliti Zoologi BRIN,” ungkap Riyanto, sebagaimana dimonitor di taman LIPI, Sabtu (9/10/2021).

RelatedPosts

Indonesia Leads Regional Green Alliance Against Cross-Border Pollution

IPB Expert: Nickel Mining in Halmahera Threatens Marine Ecosystems and Coastal Livelihoods

Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives

Penemuan cecak jenis baru bermula dari pemeriksaan detail spesimen Cyrtodactylus dari Kalimantan yang tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) – Cibinong, dalam rangka mengungkap diversitas marga Cicak jarilengkung Indonesia dan upaya memahami bagaimana biogeografi serta evolusinya yang merupakan fokus riset Riyanto.

“Saat pemeriksaan spesimen koleksi marga Cecak Jarilengkung dari Kalimantan, kami mengidentifikasi beberapa spesies baru. Salah satunya C. hamidyi yang baru terbit ini. Adapun tiga lainnya sedang dalam finalisasi penulisan manuskripnya.  C. hamidyi semula adalah empat spesimen berlabel C. baluensis dan dikoleksi tahun 2011 dari Kalimantan Timur,” ungkap Riyanto.

Ketika dikonfirmasi di artikel juga disebutkan adanya tiga specimen dari Tawau, Sabah, Malaysia.

Riyanto menjelaskan “sebagai peneliti atau insan yang hidup dalam dunia ilmu pengetahuan, tentunya tidak bisa bersikap tertutup. Kita harus punya koneksi luas yang mampu menembus barrier administrasi antar negara dengan para pakar di bidang yang sama untuk berdiskusi. Nah spesimen dari Tawau ini adalah salah satu hasilnya. Kami tidak perlu keluar biaya untuk datang ke Institute for Tropical Biology and Conservation, University Malaysia Sabah tempat spesimen dari Tawau dideposit, maupun ke Osaka Museum of Natural History Jepang untuk memeriksa specimen type spesies lainnya, namun data yang dibutuhkan dapat kita peroleh”.

Riyanto menjelaskan bahwa cecak baru ini mempunyai panjang tubuh hingga 63 mm dengan warna dasar pemukaan tubuh cokelat, memiliki corak semilunar di bagian belakang kepala, semacam garis melintang coklat gelap pada punggung yang dibatasi oleh pola jaringan putih terkadang membentuk garis vertebral. Ekor juga dengan pola melintang cokelat gelap selang seling dengan putih.

Selain itu Riyanto juga menambahkan bahwa secara morfologi C. hamidy paling mirip dengan C. matsuii.

Meskipun didokumentasikan dari dua tempat berbeda, Nunukan dan Tawau dengan jarak sekitar 80 km di antara keduanya. Kedua populasi tidak menunjukkan adanya perbedaan karakter diagnostik.

Satu-satunya perbedaan kecil di antara populasi tersebut adalah jumlah tuberkular punggung, pori-pori precloacal dan jumlah baris sisik ventral, perbedaan lebih sesuai dengan variasi populasi karena jarak geografis.

“Namun demikian bila dikemudian hari analisis molekuler menujukkan sebaliknya, itu bisa saja terjadi. Inilah namanya ilmu pengetahuan, nothing absolute truths,” imbuhnya. (ATN)

Tags: BiodiversityHutan KalimantanKeanekaragaman HayatiKonservasi HutanLIPISpesies Langka
No Result
View All Result

Terbaru

  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens
  • ASEAN, Russia Agree to Deepen Economic Cooperation Amid Global Uncertainty
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.