• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Uganda Bantah Bandaranya Diambil Alih China Karena Utang Rp2,8 Triliun

by Redaksi Asiatoday
November 30, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Uganda Bantah Bandaranya Diambil Alih China Karena Utang Rp2,8 Triliun

Bandara Internasional Entebbe Uganda. Dok

ASIATODAY.ID, KAMPALA – Uganda membantah bahwa Bandara Internasional Entebbe telah diambil alih China karena gagal membayar utang USD200 juta atau setara dari Rp2,8 triliun).

Juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Uganda (UCAA), Vianney M. Luggya melalui tweet via akunnya, @UCAA_Spokesman, mengatakan laporan itu salah dan dia anggap hoaks.

“I wish to make it categorically clear that the allegation that Entebbe Airport has been given away for cash is false. @GovUganda can’t give away such a national asset. We have said it before and repeat that it has not happened. There isn’t an ounce of truth in it.

RelatedPosts

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

— Vianney M. Luggya (@UCAA_Spokesman) November 27, 2021

“Saya ingin menjelaskan dengan tegas bahwa tuduhan bahwa Bandara Entebbe telah diserahkan untuk uang tunai adalah salah. @GovUganda tidak bisa memberikan aset nasional seperti itu. Kami telah mengatakannya sebelumnya dan mengulangi bahwa itu tidak terjadi. Tidak ada satu ons pun kebenaran di dalamnya.”

Sebagai referensi, Uganda meminjam USD200 juta dari Export-Import Bank of China (Exim Bank) untuk memperluas Bandara Internasional Entebbe. Perjanjian pinjaman itu ditandatangani pada 2015.

Surat kabar lokal, The Monitor, melaporkan Uganda sedang berusaha untuk mengubah perjanjian pinjaman yang ditandatangani dengan China pada tahun 2015 untuk memastikan pemerintah tidak kehilangan kendali atas satu-satunya bandara internasional negara itu.

Laporan itu mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Di antara klausul yang ingin diubah pemerintah Uganda, lanjut laporan The Monitor, adalah perlunya Otoritas Penerbangan Sipil Uganda untuk meminta persetujuan dari pemberi pinjaman China untuk anggaran dan rencana strategisnya.

Aturan lain mengamanatkan bahwa setiap perselisihan antara para pihak harus diselesaikan oleh Komisi Arbitrase Ekonomi dan Perdagangan Internasional China.

Dalam perjanjian awal, pinjaman USD200 juta harus dibayar selama 20 tahun dan Uganda masih dalam masa tenggang tujuh tahun.

Kemajuan pekerjaan bandara yang dibangun pada tahun 1972 ini telah mencapai 75,2 persen, dengan dua landasan pacu telah mencapai penyelesaian keseluruhan 100 persen.

Bandara Internasional Entebbe menangani lebih dari 1,9 juta penumpang per tahun.

Perluasan bandara dengan pinjaman China itu dianggap bagian dari Proyek Belt and Road Initiative atau Sabuk dan Jalan China yang dirundung kontroversi di seluruh dunia.

Di Sri Lanka, pemerintah setempat pada tahun 2017 setuju untuk menyewakan pelabuhan ke perusahaan yang dipimpin oleh China Merchants Port Holdings Co selama 99 tahun dengan imbalan USD1,1 miliar.

Di Pakistan rencana awalnya untuk membangun pelabuhan laut, jalan raya, rel kereta api, jaringan pipa, puluhan pabrik, dan bandara terbesar di negara itu belum terealisasi.

Sementara itu, Kedutaan Besar China di Uganda dalam sebuah pernyataan yang dikutip Selasa (30/11/2021), menyampaikan bantahan tentang beberapa laporan media yang intinya “Uganda diduga menyerahkan bandara untuk uang China”.

????️Remarks by the Spokesperson of the Chinese Embassy in Uganda on Some Media Reports Alleging that“Uganda Surrenders Airport for China Cash” pic.twitter.com/BqR3Rw4eKd

— Chinese Embassy in Uganda (@ChineseEmb_Uga) November 28, 2021. (ATN)

Tags: Belt and Road InitiativeChinaUganda
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.