• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Australia Perketat Impor dari Xinjiang, Terkait Dugaan Perbudakan Etnis Uighur

by Redaksi Asiatoday
January 16, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Australia Bendung Pengaruh China di Kampus

Negeri Australia. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Australia mengambil langkah tegas dan bergabung dengan sekutu termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris dalam menyampaikan kekhawatiran tentang penggunaan produk dari wilayah Xinjiang, China dalam rantai pasokan global.

Pasalnya, perusahaan di Xinjiang diduga mempraktikkan kerja paksa dan perbudakan terhadap etnis muslim Uighur.

Menteri Luar Negeri Marise Payne mengatakan perusahaan lokal yang mengambil barang dari daerah tersebut perlu memeriksa pemasok dengan benar.

RelatedPosts

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Pemerintah Australia berusaha untuk meningkatkan tekanan pada China atas perlakuan terhadap minoritas Muslim etnis Uighur.

AS mengatakan China telah menahan lebih dari satu juta orang Uighur dan etnis serta pemeluk agama minoritas lainnya di kamp-kamp pendidikan ulang. Beijing telah berulang kali menolak klaim tersebut, dengan alasan bahwa mereka memerangi separatisme dan ekstremisme agama di wilayah tersebut.

Inggris bulan ini mengatakan akan memberikan denda bagi perusahaan jika menutupi impor dari Xinjiang, sementara AS minggu ini bergerak untuk melarang masuknya semua produk kapas dan tomat dari wilayah tersebut, dengan alasan kekhawatiran atas kerja paksa.

Australia berbagi keprihatinan serius dari mitra internasional, seperti Inggris, tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Xinjiang

“Termasuk dalam kaitannya dengan kerja paksa dan penahanan sewenang-wenang,” kata Payne, dilansir Bloomberg, Sabtu (16/1/2021).

Perusahaan Australia yang mengambil produk dari Xinjiang perlu melakukan uji tuntas ke dalam rantai pasokan mereka.

Sementara itu, hubungan antara Canberra dan Beijing, mitra dagang utamanya, telah memburuk sejak 2018, ketika Huawei Technologies Co. dilarang membangun jaringan 5G di Australia. Tahun lalu, dua negara kembali berseteru setelah Perdana Menteri Scott Morrison menyerukan penyelidikan internasional tentang asal-usul virus corona.

China tahun lalu memerintahkan pedagang untuk berhenti membeli rakit komoditas Australia, termasuk batu bara, jelai, gula, kayu, anggur, dan lobster. (ATN)

Tags: AustraliaSave Uighur
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.