• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, July 17, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Bangun Energi Bersih, Indonesia dan AS Luncurkan Engineers Unite in Diversity

by Redaksi Asiatoday
June 24, 2021
in GREEN ENERGY
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Investasi Rp1 Triliun, PT LEN Gandeng China Bangun Panel Surya di Indonesia

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sepakat meluncurkan Engineers Unite in Diversity, sebuah inisiatif baru yang bertujuan untuk mengembangkan energi baru terbarukan dan mencapai emisi nol karbon.

Kerjasama itu diluncurkan bersama oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan dan John Kerry, Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat untuk Iklim.

“Sektor swasta dan masyarakat sipil pandai menemukan solusi baru. Kami berdiri di awal apa yang disebut dekade pencapaian Kesepakatan Iklim Paris dan SDG PBB, dan untuk berhasil pemerintah di seluruh dunia perlu membangun koalisi yang luas,” kata Luhut Pandjaitan dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (25/6/2021).

RelatedPosts

Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT

Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race

Asia’s Green Transition Gets $163 Billion Climate Finance Boost

Melalui inisiatif yang diprakarsai oleh Forum Tri Hita Karana ini, berbagai elemen diharapkan bisa bergabung. Ini adalah program yang mampu mendorong dampak nyata dan membantu Indonesia memenuhi target yang telah ditetapkan.

Inisiatif Engineers Unite in Diversity bertujuan untuk memperluas kolaborasi dan mendorong tindakan untuk mendukung transisi ke ekonomi rendah karbon dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia serta kawasan Asia Tenggara yang lebih luas.

Forum Iklim Tri Hita Karana bermula saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim yang digagas Presiden AS Joe Biden pada April lalu. Ketika itu, KTT ini mempertemukan 40 pemimpin dunia untuk menggembleng upaya negara-negara penggerak ekonomi utama dalam mengatasi krisis iklim.

Sejak saat itu, Indonesia dan Amerika Serikat telah membentuk empat gugus tugas sektoral dengan perwakilan dari pemerintah, pakar teknis, dan investor sektor swasta untuk mengembangkan hasil yang nyata dan dapat dicapai dalam mendukung transisi ke ekonomi rendah karbon.

“Kami berterima kasih atas fokus pemerintahan Biden pada iklim. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan internasional di bidang ini melalui komitmen kami untuk melindungi salah satu hutan hujan utuh terbesar di dunia, dan beberapa cadangan terbesar lahan gambut tropis dan bakau yang kaya CO2,” jelas Luhut.

Pemerintah Indonesia siap berbuat lebih banyak untuk mengatasi krisis iklim yang dihadapi dunia, dan menyambut baik kesempatan untuk berkolaborasi dengan pemerintah AS dan sektor swasta untuk melakukan transisi ke ekonomi rendah karbon. Indonesia mengundang Amerika Serikat untuk bersama-sama membawa isu lingkungan dan perubahan iklim ke G20 pada 2022.

Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi dalam sambutannya di Forum Iklim Tri Hita Karana mengatakan, perubahan iklim adalah masalah mendesak bagi ASEAN. Pihaknya menyadari pentingnya solusi berbasis alam dan peran kunci pelestarian modal alam untuk mengatasi perubahan iklim.

“Penting bagi kami memperkuat pekerjaan di bidang iklim, dan ketika kami mulai membangun kembali ekonomi setelah Covid-19, kami memiliki kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih hijau, lebih bersih, dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Forum Iklim Tri Hita Karana dihadiri oleh lebih dari 350 peserta dari perwakilan pemerintah, masyarakat sipil dan sektor swasta di Indonesia dan Amerika Serikat. Sambutan dari Menteri Koordinator Luhut Pandjaitan dan Utusan Iklim John Kerry menekankan perlunya kolaborasi yang lebih besar di bidang keuangan hijau, transfer teknologi, peningkatan kapasitas dan aliansi sektor pemerintah-swasta untuk mencapai target pembatasan peringatan global hingga 1,5 celcius. (ATN)

Tags: Asia EnergyClimate ChangeEngineers Unite in DiversityGreen EnergyKerjasama Indonesia AmerikaPerubahan IklimTri Hita Karana
No Result
View All Result

Terbaru

  • Wempi Saputra Appointed ADB Vice-President
  • Indonesia’s Gold Ambition: Building a Global Bullion Ecosystem Beyond Mining
  • Indonesia Joins Global AI Alliance
  • Danantara Indonesia Enters Global Sovereign Wealth Fund Network
  • OPEC+ Builds New Energy Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.