• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

China Gelar Operasi Pembersihan Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong, 53 Orang Ditangkap

by Redaksi Asiatoday
January 7, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Hong Kong Kembali Bergejolak, Polisi Memburu Para Demonstran

Aksi Polisi di Hong Kong saat mengamankan pengunjukrasa. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – China menggelar operasi besar-besaran untuk membersihkan jejak gerakan pro demokrasi di Hong Kong.

Lebih dari 50 aktivis dan politisi pro-demokrasi Hong Kong terkemuka ditangkap dalam tindakan pengamanan paling keras dan terbesar yang dilakukan pemerintah sejak China memberlakukan undang-undang keamanan yang ketat mulai tahun lalu.

Sekitar 1.000 polisi mengambil bagian dalam penggerebekan pada pagi hari di 72 tempat seluruh kota. Mereka yang ditahan terlibat melakukan pemilihan tidak resmi untuk memilih kandidat oposisi menjelang pemilu 2020 yang ditunda.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Mereka dituduh berusaha ‘menggulingkan’ pemerintah seperti dikutip BBC.com, Kamis (7/1/2021). Sementara itu, para aktivis mengatakan undang-undang baru bertujuan untuk membatasi perbedaan pendapat.

Pemerintah China memberlakukan undang-undang di wilayah semi-otonom itu pada bulan Juni. Tujuannya untuk mengekang berbulan-bulan aksi protes pro-demokrasi yang terkadang disertai kekerasan.

Beijing membela penangkapan tersebut dan juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying mengatakan tindakan itu diperlukan untuk menghentikan ‘pasukan eksternal dan individu (berkolusi) untuk merusak stabilitas dan keamanan China’.

Kendati begitu, tindakan keras itu tampaknya mengonfirmasikan ketakutan banyak orang yang memperingatkan tentang hukum yang diberlakukan.

Sementara itu, Amnesty International mengatakan penangkapan itu adalah bentuk paling kejam tentang bagaimana hukum keamanan nasional telah dipersenjatai untuk menghukum siapa pun yang berani menentang pemerintah.

Puluhan orang telah ditangkap berdasarkan undang-undang keamanan sejak undang-undang tersebut diberlakukan pada bulan Juni. Akan tetapi jumlahnya tidak pernah sebanyak yang ditangkap pada waktu yang sama seperti pada hari Rabu. Hal itu menandai peningkatan tindakan keras terhadap tokoh para pro-demokrasi.

Polisi menyebar di sekitar kota dan di pagi hari saat penggerebekan dan menahan 53 orang yang mewakili kekuatan demokrasi di bekas koloni Inggris itu. (ATN)

Tags: ChinaHong KongHong Kong Revolution
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.