ASIATODAY.ID, TANJUNGPINANG – Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa China telah melanggar Zona Ekonomi Eksklusif RI (ZEEI) di perairan laut Natuna.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mendesak pemerintah pusat agar memperketat pengawasan di perairan Natuna agar laut Natuna tidak diinvasi kapal asing, termasuk kapal China yang masuk tanpa ijin.
Menurut Pelaksana Gubernur Kepri Isdianto, persoalan kapal China yang masuk ke perairan Natuna, seharusnya tidak terjadi.
Pemprov Kepri, kata dia, memiliki keterbatasan dalam menangani permasalahan tersebut karena menyangkut pertahanan keamanan.
“Permasalahan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat, karena itu kami mandorong agar pengawasan du wilayah NKRI diperketat,” ujarnya.
Isdianto meyakini pemerintah pusat memperhatikan permasalahan pertahanan keamanan di kawasan perbatasan, seperti di Natuna. Aparat dari sejumlah institusi sudah memberi atensi terhadap permasalahan itu.
Negara tidak mungkin lepas tangan terhadap berbagai permasalahan yang mengganggu NKRI. Sebab, negara menyadari salah satu bagian terpenting dalam mengelola kawasan perbatasan adalah pertahanan keamanan.
“Bagian terpenting adalah mengawasi dan mengamankan wilayah NKRI, terutama di daerah perbatasan seperti Natuna,” katanya.
Isdianto berharap masyarakat Natuna tidak khawatir dengan kondisi itu. Pemerintah pusat dan aparat yang berwenang pasti akan melindungi wilayah NKRI.
“Pertahanan keamanan Kepri akan semakin kuat setelah gabungan TNI di wilayah barat dipusatkan di Tanjungpinang,” ujarnya.
Tambah Pasukan
Sementara itu, Badan Keamanan Laut (Bakamla) menegaskan akan menambah pasukan untuk mengamankan wilayah perairan laut Natuna.
“Kita pastikan akan dilakukan penguatan pengamanan. Kami sudah tambah dan kirim pasukan lagi. Itu dinamika, jadi tidak usah rapat pun sudah otomatis itu. Itu kewenangan di satuan masing-masing. Yang jelas tadi sudah disampaikan kepada Menlu, itulah sikap kita,” tegas Kapala Bakamla Laksdya Achmad Taufieqoerrochman di kantor Kemnko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat (03/01/2020).
Achmad mengatakan pihaknya telah mengirim pasukan tambahan untuk melalukan patroli di Laut Natuna. Achmad menyebut TNI juga membantu Bakamla untuk mengamankan ZEE Indonesia.
“TNI pasti mengerahkan kekuatan juga,” jelasnya.
Menurut Achmad, Bakamla berada di bagian terdepan untuk mengamankan perairan Indonesia dan TNI akan membantu melakukan patroli.
“Tapi dalam kondisi damai saya bilang memang Bakamla di depan. Orang sekarang lebih senang menggunakan white-hull daripada grey-hull. Karena kalau kapal perang kan tensinya agak berbeda. Jadi Bakamla tetap di depan,” tegas Achmad.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Indonesia tidak akan mengakui 9 Garis Putus-putus China yang mengatakan bagian Laut Natuna adalah teritorial mereka. Achmad mengaskan bahwa Bakamla akan mengamankan wilayah perairan RI itu. (AT Network)
,’;\;\’\’
