ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah China merespon penahanan dua kapal tanker berbendera Iran dan Panama oleh Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia baru-baru ini.
China menyatakan keprihatinan atas ditahannya 25 awak kapal asal negaranya yang bekerja di kapal berbendera Panama, MT Freya. Kapal tersebut disita Indonesia saat sedang menerima pasokan minyak dari kapal berbendera Iran MT Horse di lepas pantai Kalimantan akhir pekan lalu.
“Kedutaan kami telah menyatakan keprihatinannya kepada Indonesia. Kami meminta mereka memverifikasi situasi tentang pelaut China secepat mungkin dan memberi tahu kami secara resmi,” kata Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Zhao Lijian dalam keterangannya, dikutip dari laman resmi Kemlu China, Jumat (29/1/2021).
Zhao menyerukan Indonesia menyelidiki kasus penyitaan kapal tanker MT Horse dan MT Freya secara adil. Dia pun meminta agar awak kapal China yang ditahan dijamin hak-hak sahnya, termasuk dalam hal kesehatan dan keselamatan.
“Kedutaan kami akan terus mengikuti penyelidikan dan memberikan bantuan kepada anggota kru terkait,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, pada Minggu (24/1/2021) lalu KN Pulau Marore-322 mengamankan dua kapal tanker berjenis MT yang sedang melaksanakan ship to ship. Diduga, kedua kapal tersebut melakukan transfer BBM ilegal dan dengan sengaja menutup nama lambung kapal dengan kain. Kapal itu juga mematikan AIS untuk mengelabui aparat penegak hukum Indonesia.
Untuk dugaan awal, kedua kapal tanker itu melanggar hak lintas transit pada ALKI I dengan keluar dari batas 25 NM ALKI, melakukan lego jangkar di luar ALKI tanpa ijin otoritas terkait, melaksanakan ship to ship transfer BBM ilegal, tidak mengibarkan bendera kebangsaan, AIS dimatikan serta MT Freya melaksanakan oil spiling.
Sementara itu, pemerintah Iran telah meminta Indonesia memberikan detail atau rincian tentang penyitaan kapal tanker berbendera negaranya itu.
Hingga kini, Bakamla masih melakukan penyelidikan dan pendalaman atas penahanan dua kapal tanker tersebut. (ATN)
