• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, July 15, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

China Tangguhkan Utang USD2,1 Miliar Negara Berkembang

by Redaksi Asiatoday
November 21, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
China Bersiap Hadapi Gelombang Kedua Covid-19, Kota Jia Lockdown Total 

Negeri China. Ist

ASIATODAY.ID, BEIJING – Menteri Keuangan China, Liu Kun  mengumumkan memperpanjang keringanan utang kepada negara-negara berkembang senilai USD2,1 miliar secara total atau sekitar Rp30,45 triliun di bawah kerangka kerja G20.

Nilai tersebut menjadi yang tertinggi diantara anggota G20 dalam hal jumlah penangguhan.

Pernyataan Liu muncul ketika negara-negara Afrika, yang terpukul pandemi COVID-19, menghadapi krisis utang lain, dan membutuhkan lebih banyak bantuan jangka panjang daripada yang ditawarkan Inisiatif Penangguhan Layanan Hutang (DSSI) G20 terbaru.

RelatedPosts

Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism

Indonesia Enters Aircraft Carrier Era

Japan Ramps Up Ukraine’s Industrial Recovery with UNIDO Technology Partnership

“Badan Kerjasama Pembangunan Internasional China, Badan Bantuan Negara, dan Bank Ekspor-Impor China, kreditur bilateral, resmi menangguhkan pembayaran hutang dari 23 negara, senilai total USD1,353 miliar,” kata Liu, seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (21/11/2020).

Liu menambahkan, Bank Pembangunan China, sebagai kreditur komersial, menandatangani perjanjian dengan negara berkembang yang melibatkan USD748 juta pada akhir September.

China dan Jepang Kurangi Surat Utang Amerika

Studi Bank Dunia menunjukkan bahwa angka itu kecil dibandingkan dengan utang negara berkembang yang harus dibayar China. Utang bilateral resmi negara termiskin kepada negara-negara G20 mencapai USD178 miliar pada 2019, dengan 63 persen dari total utang ke China.

Sepertiga dari USD30,5 miliar dari pembayaran utang publik yang jatuh tempo pada 2021 oleh negara-negara Afrika sub-Sahara yang memenuhi syarat DSSI berutang kepada kreditor resmi Tiongkok, sementara 10 persen lainnya terkait dengan China Development Bank, menurut Institute of International Keuangan.

Amerika Serikat (AS), China, dan negara-negara G20 lainnya telah menawarkan bantuan kepada negara-negara termiskin di dunia, banyak di antaranya berada di Afrika, bantuan hingga setidaknya pertengahan 2021 dan akan memutuskan apakah perpanjangan enam bulan diperlukan pada April tahun depan.

Liu mengatakan China bersedia meningkatkan bantuan keuangan untuk negara berkembang dan lebih banyak dukungan akan diberikan kepada mereka yang paling terpukul pandemi dan di bawah tekanan berat, dan juga akan memprioritaskan pasokan vaksin COVID-19 ke negara-negara miskin.

“China juga akan mempertimbangkan untuk memberikan sumbangan kepada fasilitas keringanan utang multilateral jika Bank Dunia memutuskan untuk mendirikannya,” kata Liu. (ATN)

Tags: ChinaG20
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism
  • Why North Bali Is Becoming the Favorite Destination for International Travelers
  • Danantara Powers Indonesia’s New Industrial Era
  • ITB-Vietnam CT Group Forge ASEAN Tech Alliance
  • Indonesia Enters Aircraft Carrier Era
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.