• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, July 15, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Desak Presiden Mundur, Jutaan Orang Turun ke Jalan Lumpuhkan Ibu Kota Chile

by Redaksi Asiatoday
October 26, 2019
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Desak Presiden Mundur, Jutaan Orang Turun ke Jalan Lumpuhkan Ibu Kota Chile

ASIATODAY.ID, SANTIAGO – Lebih dari satu juta orang turun ke jalanan Santiago, Chile, pada Jumat 25 Oktober petang waktu setempat. Mereka semua menyatukan kekuatan dalam menyerukan Presiden mundur dan adanya perubahan masif di bidang sosial dan politik Chile.

Ibu kota Santiago sempat lumpuh karena banyaknya jumlah demonstran. Aksi protes berskala masif ini terjadi sepekan usai aksi protes meletus di seantero Chile dalam menentang ketidaksetaraan.

Desak Presiden Mundur, Jutaan Orang Turun ke Jalan Lumpuhkan Ibu Kota Chile 1
Aksi demonstrasi di Santiago, Chile. Foto : carolinandrea

Aksi protes ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di Chile dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah pihak menyandingkan skala protes kali ini dengan demonstrasi di tahun 1988 saat masyarakat Chile menentang kepemimpinan diktator Augusto Pinochet.

RelatedPosts

Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism

Indonesia Enters Aircraft Carrier Era

Japan Ramps Up Ukraine’s Industrial Recovery with UNIDO Technology Partnership

“Semua ini terasa begitu emosional. Kami semua bersama-sama turun ke jalan. Ini adalah hal yang sangat baru bagi Chile,” ujar seorang demonstran bernama Camilo Godoy, di tengah lautan massa yang menyanyikan slogan Oh, Chile Desperto (Oh, Chile bangunlah).

“Akhirnya, orang-orang mulai terbangun dari tidur mereka,” lanjut dia, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (26/10/ 2019).

Unjuk rasa terbaru pada Jumat 25 Oktober merupkan klimaks dari gelombang protes di Chile, yang awalnya dipicu kemarahan pemuda atas naiknya tarif kereta api bawah tanah.

Gerakan pemuda kemudian berubah menjadi aksi protes berskala nasional. Banyak warga kesal atas tingginya kesenjangan kesejahteraan di Chile. Mereka juga geram karena sektor kesehatan dan pendidikan di Chile hampir seluruhnya telah diprivatisasi.

Kekesalan lain yang diungkapkan demonstran adalah tingginya tarif transportasi publik, upah rendah dan juga nilai pensiun yang dianggap minim.

Demonstrasi di Santiago dipenuhi suara tabuhan drum dan panci penggorengan. Sejumlah grup musik memulai konser di tengah demonstran, yang turut bernyanyi dan juga menari dalam satu kesatuan.

“Kediktatoran telah memecah-belah kami, tapi kalian bisa lihat sendiri kami semua ada di sini. Ada Mapuche (grup etnis lokal), feminis, imigran, anak-anak dan lainnya. Semua berkumpul di sini,” tutur Godoy.

Jalanan Santiago dipenuhi lautan merah, putih dan biru yang merupakan warna bendera Chile. “Aksi ini telah menjadi simbol kebebasan dan pemberontakan. Hari ini kami semua bersatu demi memperjuangkan hak-hak kami,” sambung Godoy.

Maria Angelica Sanchez, seorang demonstran berusia 72 tahun, mengaku belum pernah melihat aksi protes sebesar ini semasa hidupnya. Ia ikut serta dalam aksi protes bersama adik perempuannya.

“Saya sangat senang dan merasa terdorong oleh semangat para pemuda,” ucap Sanchez.

Merespons demonstran, Presiden Chile Sebastian Pinera mengaku telah mendengar semua keluhan warga. “Aksi masif hari ini membuka jalan menuju masa depan. Kami telah mendengar semua pesan kalian. Dengan bantuan Tuhan, kami akan berjalan di jalan yang akan membuat Chile menjadi lebih baik,” tulis Pinera di Twitter.

Pinera dan sepupunya, Menteri Dalam Negeri Andres Chadwick, telah dikritik sejumlah pihak atas penanganan unjuk rasa yang sejauh ini telah menewaskan 19 orang dan membuat lebih dari 3.100 ditahan. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Hong Kong RevolutionKerjasama Indonesia-ChileRevolusi ChileUnjukrasa Chile
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism
  • Why North Bali Is Becoming the Favorite Destination for International Travelers
  • Danantara Powers Indonesia’s New Industrial Era
  • ITB-Vietnam CT Group Forge ASEAN Tech Alliance
  • Indonesia Enters Aircraft Carrier Era
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.