• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Dua Opsi Bagi Indonesia Antisipasi Dampak Ekonomi Corona

by Redaksi Asiatoday
March 7, 2020
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Wabah Virus Corona Masuk Arab Saudi, 1 Orang Positif Terinfeksi

Virus Corona. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menawarkan dua opsi bagi pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi dampak ekonomi akibat wabah virus corona (Covid-19).

“Potensial Dampak Ekonomi dari Covid-19 sudah menjadi Outbreak secara global dan sebagai bagian dari early warning system yang harus kita bangun,” terang Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho melalui keterangan tertulisnya yang diterima Sabtu (7/3/2020).

Menurutnya, outbreak ini tidak bisa dielakkan akan memberi konsekuensi pada ekonomi Indonesia.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

“Kami proyeksikan kalau misalnya terjadi outbreak ini, yang kita amati secara detail adalah pada first effect. Sektor pariwisata, termasuk transportasi udara, makanan, dan minuman menjadi sektor yang sangat vulnerable terhadap outbreak ini,” terangnya.

Eko memaparkan, berdasarkan perhitungan perkiraan, sektor pariwisata bisa kehilangan 2 juta turis.

“Dari China saja misalnya, USD2 milyar atau Rp28 Triliun. Itu baru dari China saja,” sebutnya.

“Kondisi yang berdekatan dengan ramadhan dan hari raya sekarang ini, untuk urusan logistik diharapkan bisa menjadi baik. Begitu tidak ada di pasar maka harga akan melonjak. Ini akan menggerus consumption dan menjadi secondary effect. Pertumbuhan ekonomi akan tertekan 0.2-0.3 persen,” tambahnya.

“Jika kita tidak melakukan apa-apa, kita akan tertekan,” tegasnya.

Eko mencontohkan, pasar modal akan terkoreksi dan merambat pada finansial sector, maka tekanan pada consumption akan terganggu.

Menurut Eko, saat ini Indonesia berada pada rangkaian krisis global. Rangkaian itu utamanya ketidakpastian. Dimulai dari perang dagang China dengan AS dan menurunnya kegiatan ekonomi global.

“Kalau terjadi krisis yang merata, kita pasti tidak bisa terhindar, karena ekspor impor masih menjadi yang terpenting. Antisipasi terhadap hal itu harus kita pikirkan,” ujarnya.

Langkah Pemerintah

Menurut Eko, respon pemerintah/stimulus masih terlalu umum diberikan.

“Bagaimana kita mengantisipasi lebaran, logistik harus disiapkan, cek gudang-gudang, dan bagaimana kondisi saat ini. Kalau itu aman kita bersyukur. Kalau tidak, maka akan berdampak pada inflasi. Dampaknya bisa melebihi kenaikan listrik dan BBM,” paparnya.

Menurut Eko, dua hal yang harus segera dilakukan pemerintah.

Pertama, Amati pergerakan inflasi. Inflasi jangan sampai tidak terkendali. Ia menegaskan, pemerintah harus meyakinkan masyarakat agar tidak panik.

“Apabila inflasi tidak terkendali maka efeknya luar biasa. Jangan sampai bergejolak, tingkat bunga akan mengikuti. Jika itu terjadi maka domino effectnya akan lebih parah lagi,” terangnya.

Hal lain yang harus dilakukan pemerintah, menurutnya, adalah melakukan operasi pasar. Masyarakat harus diyakinkan bahwa lonjakan harga utamanya makanan dan minuman menjadi komponen penting.

Kondisi Indonesia sebelum dampak corona menurut Eko masih tumbuh 5 persen dibanding negara lain. Namun, Eko menjelaskan, perlu diperhatikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada consumption yang luar biasa dan government expanditure yang signifikan.

“Ekspor tidak cukup prospektif, investasi tidak cukup menggembirakan, sektor industri kita sejak tahun 2000-an mengalami stagnan. Fundamental kita dilihat dari kaca mata ekonomi masih banyak yang harus dikerjakan. Perlu upaya dan rangkaian kebijakan afirmatif yang signifikan,” paparnya.

Eko menambahkan, UMKM di sektor pariwisata sangat berdampak signifikan. Ketika gangguan logistik terjadi, produk dalam negeri menjadi punya kesempatan untuk menggantikan.

“Fasilitas itu harus kita berikan kepada UMKM untuk mengganti gangguan suply impor consumer goods,” imbuhnya.

Menanggapi Eko, Addhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mengatakan, kekurangan bahan baku mengakibatkan Indonesia terpaksa harus import. Menurutnya, butuh kebijakan pemerintah yang clear dari hulu dan hilir untuk mendukung pembangunan.

Kembali Eko menegaskan bahwa potensi dampak corona terhadap ekonomi Indonesia sangat signifikan. Untuk itu, menurutnya, antisipasi bagaimana upaya pemerintah bersinergi pada pelaku usaha, masyarakat menjadi sangat penting, terutama Industri yang secara langsung akan terdampak. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: ADBCoronavirusEkonom IndonesiaEkonomi DuniaLIPIVirus Corona
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.