• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Tuesday, July 14, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Dunia Terancam Krisis Pangan Usai Rusia Tolak Kesepakatan Laut Hitam

by Redaksi Asiatoday
July 26, 2023
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
IMO Bentuk Koridor Maritim yang Aman dari Serangan Rusia

Aktivitas kapal dagang di Laut Hitam. Dok IMO

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Dunia terancam menghadapi krisis pangan usai Rusia menolak seruan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres agar Moskow bergabung kembali dengan kesepakatan biji-bijian Laut Hitam.

Melansir Aljazeera, Guterres sebelumnya mendesak Rusia untuk kembali dalam kesepakatan ekspor biji-bijian Ukraina ke Laut Hitam.

Dia telah menulis surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan kesepakatan biji-bijian tersebut, pada 11 Juli lalu.

RelatedPosts

Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert

A Decade After South China Sea Ruling, Indo-Pacific Nations Recommit to Maritime Order

Indonesia Boosts Energy Security With 45,900 Tons of LPG From US

Selain itu, dia juga mengusulkan kepada Rusia memperpanjang kesepakatan dengan batas harian 4 kapal bepergian ke Ukraina dan 4 kapal berangkat, sebagai imbalan untuk menghubungkan anak perusahaan Bank Pertanian Rusia Rosselkhozbank ke sistem pembayaran global SWIFT.

Permintaan utama Moskow telah menghubungkan kembali Rosselkhozbank ke SWIFT, dan Uni Eropa menghentikannya pada Juni 2022.

“Saya meminta Federasi Rusia untuk kembali menerapkan Prakarsa Laut Hitam, sejalan dengan proposal terbaru saya. Saya mendesak komunitas global untuk bersatu demi solusi efektif dalam upaya penting ini,” ujarnya, seperti dilansir dari CNA, pada Selasa (26/7/2023).

Sementara itu, meski Rusia menolak kembali dalam kesepakatan, Komisaris Pertanian Uni Eropa (UE) Janusz Wojciechowski menyatakan bahwa UE siap mengekspor barang pertanian Ukraina melalui jalur solidaritas.

Jalur solidaritas adalah hubungan transportasi kereta api dan jalan raya melalui negara-negara anggota UE yang berbatasan dengan Ukraina.

“Ini bukan pertama kalinya Rusia menggunakan makanan sebagai senjata, situasinya mirip dengan awal perang. Kami siap mengekspor hampir semuanya. Ini adalah sekitar 4 juta ton biji minyak dan biji-bijian per bulan dan kami mencapai volume ini pada bulan November tahun lalu,” tambahnya.

Akan tetapi memperluas transit biji-bijian melalui UE, sensitif untuk Polandia dan beberapa negara Eropa timur lainnya, di mana petani lokal mendapat tekanan dari peningkatan impor Ukraina. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Krisis Pangan
No Result
View All Result

Terbaru

  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • Freeport’s Grasberg Recovery: 21 Tonnes of Gold Target in 2026
  • Japan’s Takeda Places US$30 Million Bet on Indonesia’s Biopharma Ambition
  • ASEAN’s Chip Race: Indonesia and Malaysia Forge New Semiconductor Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.