• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Ekspor Nikel Dihentikan, Penambang Ragukan Kemampuan Smelter Domestik

by Redaksi Asiatoday
December 8, 2019
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ekspor Nikel Dihentikan, Penambang Ragukan Kemampuan Smelter Domestik

Kawasan Industri PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI). ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kebijakan Pemerintah Indonesia menghentikan ekspor ore nikel per 1 Januari 2020, memunculkan kekhawatiran para penambang.

Pasalnya, larangan ekspor akan membuat nikel jenis berkadar rendah bakal ditumpuk oleh industri smelter di Indonesia.

“Kami khawatir ore nikel kadar rendah 1,4 persen – 1,5 persen akan ditumpuk karena industri smelter di Indonesia hanya dapat mengolah ore berkadar 1,8 persen ke atas, sedangkan kadar 1,7 persen terkadang diterima kadang ditolak,” ujar penambang asal Sulawesi, Zaldy Layata dalam diskusi mengenai nikel di Jakarta, Sabtu (7/12 2019).

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Zaldy mengatakan pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan smelter-smelter domestik untuk persiapan Januari 2020. Untuk itu, Zaldy sudah mulai memproduksi kadar tinggi (high grid) agar dapat diserap smelter domestik.

“Biasanya kami ‘kawinkan’ ore nikel berkadar 1,5 persen dengan ore nikel berkadar 1,9 persen hingga dapat menghasilkan kadar 1,7 persen, atau ‘kawinkan’ ore nikel berkadar 1,6 persen dengan ore nikel berkadar 1,9 persen hingga dapat menghasilkan kadar 1,8 persen,” jelas Zaldy.

Secara terpisah, Wahyudi Agus selaku Penanggung Jawab Teknik dan Lingkungan smelter asal Sulawesi Tenggara, PT Virtue Dragon Nickel, menjelaskan bahwa ore kadar rendah bisa saja diolah. Namun diperlukan proses tambahan untuk mengolahnya.

Menurut dia, kadar barang yang masuk dari penambang belum tentu sesuai yang diharapkan sehingga pihaknya perlu melakukan blending untuk pendekatan (kadar nikel) seperti yang diinginkan dari sisi metalurgi.

“Kendalanya di situ untuk proses produksi, karena harus dipertimbangkan juga outputnya. Jadi bukan tidak bisa (diolah), tapi costnya lebih tinggi. kalau Ore dengan kandungan nikel sebesar 1,8 persen masih masuklah. Kandungan nikel di bawah itu nanti akan kami blending. Kalau kandungannya di bawah 1,75 persen ya tetap diblending. Kadar nikel yang biasanya dihasilkan setelah diolah sekitar 10-13 persen,” jelas Wahyudi.

Sementara itu, Deputy Director PT Trinitan Metals and Minerals, Tbk, Andika Vidiarsa mengatakan teknologi untuk mengolah ore nikel kadar rendah bahkan sampai kadar 1 persen sekalipun sudah tersedia tinggal dimanfaatkan saja.

Andika menjelaskan terdapat keterkaitan antara teknologi yang dimiliki smelter dengan biaya produksinya.

Menurut dia, jika smelter memiliki teknologi yang mumpuni, maka biaya produksi akan semakin efisien.

Dia mengatakan teknologi smelter di Indonesia sudah mampu mengolah ore nikel kadar rendah secara efisien dan ramah lingkungan.

“Kalau teknologinya belum ada ya memang perlu dilakukan proses blending sehingga biaya produksi cenderung tinggi. Selain itu, klasifikasi ore kadar rendah juga ada macam-macam jenisnya. Di sini sudah tersedia teknologi yang mampu mengolah ore kadar rendah hingga jenis yellow lemonite, yaitu ore dengan kadar 1 persen – 1,5 pesren. Maka kami tidak perlu melakukan proses blending untuk mengolah ore kadar rendah,” papar Andika. (Ant/ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Larangan Ekspor NikelSmelter FeronikelTambang NikelVirtu Dragon
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.