• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 13, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Gajah Sumatera Diambang Punah, Penyelamatan harus Kolaboratif

by Redaksi Asiatoday
July 20, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Gajah Sumatera Diambang Punah, Penyelamatan harus Kolaboratif

ASIATODAY.ID, PEKANBARU – Organisasi perlindungan satwa World Wildlife Foundation (WWF) Indonesia menyatakan delapan kantong gajah yang menjadi habitat asli bagi gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) kondisinya kini kritis dan kian memprihatinkan. Dikhawatirkan terjadi kepunahan lokal karena perubahan bentang alam, yang membuat konflik dengan manusia makin sering terjadi.

“Kantong gajah sudah banyak beralih fungsi, yang berbentuk hutan makin sedikit, karena menjadi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri. Hal inilah yang membuat konflik gajah dengan manusia tidak bisa dihindari dan makin sering terjadi,” kata Humas WWF Program Riau, Syamsidar, Sabtu (20/72019).

Dikatakan, alih fungsi hutan di kantong gajah juga kian mengancam kelestarian satwa dilindungi itu. Berdasarkan survey WWF, populasi gajah di sejumlah kantong tinggal segelintir dan berpeluang terjadi kepunahan lokal (local extinction).

RelatedPosts

Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives

Indonesia Seeks Global Investment to Transform National Park Conservation

The Hidden Cost of Indonesia’s Nickel Boom: Deaths, Pollution, and Rights Violations

Seperti di kantong gajah Rokan Hilir, kata dia, berdasarkan survey tinggal satu individu tersisa, begitu juga di kantong Batang Ulak. Kemudian di kantong Mahato-Barumun tinggal tiga individu dan kantong gajah Balai Raja hanya lima individu.

“Seperti di Mahato itu tiga individu yang tersisa semuanya betina, tidak ada peluang reproduksi lagi dan bisa terjadi apa yang disebut local extinction,” jelasnya.

Namun, katanya, populasi gajah sumatera masih cukup banyak di kantong gajah Giam Siak Kecil yang mencapai 50-60 individu. Kemudian di kantong Tesso Nilo Utara 30-38 ekor dan Tesso Nilo Tenggara 50-60 ekor.

Hanya saja, kata dia, kondisi kantong Tesso Nilo juga memprihatinkan sehingga rawan terjadi konflik dengan manusia.

Dibutuhkan upaya kolaborasi untuk menghindari atau minimal menekan konflik gajah dengan manusia. Pemegang izin konsesi perkebunan dan kehutanan yang berada di area kantong gajah perlu menerapkan manajemen perlindungan terhadap satwa itu.

“Konflik gajah dengan manusia akan terus terjadi karena kantong gajah makin sempit,” kata Syamsidar.

Bentang Seblat Habitat Terakhir Gajah

Bentang Seblat yang berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko merupakan rumah atau habitat terakhir populasi satwa langka gajah Sumatra (Elephas maximus Sumatrae) di wilayah Provinsi Bengkulu.

“Kawasan bentang alam Seblat ini menjadi satu-satunya kantong populasi terakhir gajah untuk wilayah Bengkulu,” kata Sekretaris Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) Donny Gunaryadi di Bengkulu, Jumat (19/7/2019).

Saat konsultasi publik dokumen Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah di Bengkulu, ia menyebutkan penyelamatan Bentang Seblat menjadi prasyarat untuk pelestarian gajah Sumatera di Bengkulu.

Menurut dia bentang Bukit Balai Rejang Selatan juga tercatat sebagai habitat gajah namun keberadaan satwa terancam punah itu tidak ditemukan lagi di wilayah tersebut.

“Jadi satu-satunya kantong populasi gajah Sumatera di Bengkulu ada di bentang Seblat sehingga penyelamatan habitat ini menjadi kunci,” imbuhnya.

Menurut Donny ada tiga penyebab utama kepunahan gajah Sumatera yaitu kehilangan habitat, perburuan untuk mengambil bagian tubuh gajah serta konflik dengan manusia.

Sementara Sekretaris Forum Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor gajah, Ali Akbar mengatakan pihaknya telah menyusun rencana aksi penyelamatan gajah di Bengkulu lewat program penyelamatan habitat berupa koridor gajah di kawasan Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko.

Pembentukan koridor gajah juga dinilai sangat penting, mengingat hampir 80 persen wilayah jelajah gajah berada di luar kawasan konservasi.

Menurut Ali pembangunan koridor gajah dilaksanakan secara partisipatif dan lintas sektoral mulai dari pemangku kawasan, warga, lembaga swadaya masyarakat dan pihak swasta.

Kawasan ekosistem esensial koridor yang diusulkan dalam KEE bentang alam Seblat mencakup hutan produksi Air Rami, hutan produksi terbatas Lebong Kandis, taman wisata alam Seblat dan sebagian konsesi IUPHK dan HGU perkebunan kelapa sawit.

Sementara Kepala Desa Gajah Makmur, Gutomo mengatakan konflik gajah di sekitar desa mereka yang berbatasan dengan Hutan Produksi Air Rami itu masih terjadi minimal sekali setahun.

“Kami belum tahu apakah memang setiap tahun gajah melintas di jalur itu tapi saat ini juga ada sekira empat ekor gajah memasuki kebun warga desa,” jelasnya.

Gutomo berharap lewat pembentukan koridor gajah di bentang Seblat dapat mengatasi konflik antara gajah dengan warga pemilik kebun di wilayah itu. (Lis/AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Asia TerkiniEkosistemGajah SumateraHutanKolaborasiKonflik Gajah dan ManusiaKonservasiKonservasi GajahKonservasi SatwaSatwa EndemikSpesies LangkaTaman NasionalWWF
No Result
View All Result

Terbaru

  • Bank Jakarta and Blibli Launch Engagement Store at Jakarta Fair 2026
  • Mass Student Protest Erupts in Indonesia Over Cost-of-Living Crisis
  • Indonesian Navy Intercepts Billion-Dollar Rare Earth Shipment With Radioactive Content
  • Indonesian Students Revive Reform-Era Protests, Mounting Pressure on Prabowo Government
  • Ceria Corp, Indonesia’s Green Nickel Pioneer, Restores 200 Hectares of Former Mine Land Through ESG Initiatives
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.