• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Gerakan Boikot Produk China Menggelinding di Australia

by Redaksi Asiatoday
December 11, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Hubungan Memburuk, China Larang Warganya ke Australia

China dan Australia. Ist

ASIATODAY.ID, SIDNEY – China dan Australia kini terlibat konfrontasi yang makin menajam.

Terbaru, gerakan untuk memboikot produk dan perusahaan China menggelinding di Australia. Aksi itu dipicu kemarahan atas sanksi dagang sepihak yang diberlakukan China atas sejumlah produk Australia yang diekspor ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

Terbukanya daftar 41 pabrik dan kebun anggur Australia yang sebenarnya dimiliki oleh investor China belum lama ini, semakin memicu kemarahan masyarakat Australia. Bahkan, saat ini perhatian publik beralih ke perusahaan “Australia” lainnya yang sepenuhnya atau sebagian dimiliki oleh asing.

RelatedPosts

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme

Melansir news.com.au, Jumat (11/12/2020), banyak warga Australia menyerukan transparansi lebih dan menuntut boikot yang lebih luas dari semua bisnis milik China di Australia di tengah berkecamuknya perang dagang diantara kedua negara ini.

“Buka semua pendanaan PKC (Partai Komunis China) di Australia,” cetus salah satu pengguna Twitter yang marah. Sementara yang lain meminta negara itu untuk “Memboikot China, membela Australia.”

“Saatnya menyusun daftar semua perusahaan Australia yang menyukai pekerjaan, manufaktur & industri di China fasis daripada di Australia. Ada banyak. Dan banyak nama besar. WAKTU UNTUK KAMPANYE – MEMBELI AUSSIE, BUKAN CHINA. BOYCOTT MADE IN CHINA,” tulis lainnya.

Berdasarkan penelusuran, terdapat cukup banyak perusahaan milik China di Australia, yang bergerak mulai dari susu bayi hingga kondom. Berikut beberapa perusahaan Australia yang sebagian atau seluruhnya dimiliki China:

Bellamy’s

Perusahaan susu China Mengniu Dairy Company ternyata menguasai produsen susu formula bayi Australia, Bellamy, dalam kesepakatan senilai sekitar USD1,5 miliar. Kesepakatan itu mendapat lampu hijau oleh Badan Peninjau Investasi Asing, yang menilai akuisisi itu tidak bertentangan dengan kepentingan nasional Australia.

EnergyAustralia

EnergyAustralia telah menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh China Light and Power Co Ltd yang berbasis di Hong Kong sejak 2011.

Alinta Energy

Perusahaan ini dijual kepada raksasa energi China Chow Tai Fook Enterprises seharga USD4 miliar, dan disetujui oleh Bendahara Scott Morrison pada tahun 2017.

Ansell

Bisnis kondom Ansell Australia dijual kepada China seharga USD800 juta pada tahun 2017. Diambil alih oleh Humanwell Healthcare dan CITIC China.

Swisse

Produsen vitamin raksasa yang didirikan di Australia tetapi kemudian dijual ke Health & Happiness, sebuah perusahaan China yang berbasis di Hong Kong yang sebelumnya dikenal sebagai Biostime International, dalam kesepakatan dua langkah senilai USD1,7 miliar pada tahun 2015 dan 2016.

Di bagian lain, sejumlah pakar mengomentari seruan untuk memboikot produk dan bisnis China sebagai aksi yang konyol dan justru dapat menjadi bumerang bagi Australia, sementara tidak berdampak pada China.

Profesor University of Sydney Business School Hans Hendrischke mengatakan, Australia adalah mitra dagang kecil dan tidak ada boikot yang dapat merugikan China. Sebaliknya, langkah itu hanya dapat merugikan negara itu sendiri.

Menurut dia, aksi boikot ini hanya memberi “momen menyenangkan” saja bagi konsumen yang merasa puas setelah memboikot barang impor China, atau tidak membeli dari bisnis lokal yang dimiliki China.

“Ini benar-benar hanya akan berdampak dalam arti politik, di dalam negeri, di mana kami akan merasa kami memiliki beberapa lembaga,” kata Hendrischke kepada NCA NewsWire.

“Itu tidak akan berdampak ekonomi pada China karena ada asimetri total, mereka menjadi klien utama Australia dan kita adalah salah satu klien global mereka, dan dalam hal ini klien kecil, untuk semua barang standar yang mereka ekspor ke seluruh dunia,” paparnya.

Dia menambahkan, jika masyarakat Australia membeli lebih sedikit barang China, hal itu tidak akan membuat perbedaan. Pasalnya, posisi kedua negara kurang seimbang.

Profesor Emeritus Griffith University Colin Mackerras juga mengkritik seruan boikot. Dia mengklaim bahwa hal itu akan menyebabkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan.

“Kita seharusnya tidak mulai memboikot barang-barang China dan bahkan memboikot produsen anggur Australia milik China,” katanya.

“Menghindari produk buatan China dengan sengaja seperti melukai diri sendiri, dan saya yakin itu konyol,” imbuhnya. (ATN)

Tags: AustraliaChina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.