• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Headline

Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok di Bayangi PDB China

by Redaksi Asiatoday
April 16, 2020
in Headline, News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok di Bayangi PDB China

Kilang Minyak. Doc

ASIATODAY.ID, SINGAPURA – Harga minyak mentah dunia tergelincir pada perdagangan, Senin (15/7/2019) setelah China membukukan pertumbuhan ekonomi kuartalan paling lambat setidaknya dalam 27 tahun. Hal itu memperkuat kekhawatiran tentang permintaan pada importir minyak mentah terbesar di dunia.

Dilansir Reuters hari ini, harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan Internasional mengalami penurunan 21 sen menjadi USD66,51 per barel pada pukul 02.22 GMT. Sementara harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) menyusut 28 sen ke posisi USD59,93 per barel.

Kedua kontrak pekan lalu membukukan kenaikan mingguan terbesar dalam tiga minggu terakhir akibat pemotongan produksi minyak AS dan ketegangan diplomatik di Timur Tengah. Selanjutnya kilang di jalur Badai Tropis Barry terus beroperasi, meskipun ada ancaman banjir.

RelatedPosts

Indonesia Accelerates Rare Earth Ambitions, Partners with Malaysia in Global Race for Critical Minerals

US Backs Indonesia’s Digital Crackdown on Human Trafficking at Sea

Middle East Conflict Exposes Southeast Asia’s Energy Vulnerability

Sementara badai telah memangkas output minyak mentah Teluk Meksiko mencapai sebesar 73% yang setara dengan 1,38 juta barel per hari. Diungkapkan bahwa premi risiko dari badai tropis Barry, diprediksi membuat permintaan minyak lebih rendah.

Ditambah mulai meredanya kabar ketegangan dari Timur Tengah mungkin bisa sedikit meredam efek hal di atas terhadap harga minyak, menurut Stephen Innes selaku managing partner di Vanguard Markets yang berbasis di Bangkok.

Pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 6,2% pada kuartal kedua dari tahun sebelumnya, sejalan dengan ekspektasi para analis, dengan permintaan di dalam negeri dan luar negeri goyah ketika perang perdagangan A.S dan China terus menggigit.

Namun output industri dan penjualan ritel China mengalahkan perkiraan, “Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi di China lebih sehat daripada data yang sebelumnya kami berikan,” kata Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets, Sydney. (AT Network)

Tags: Asia TerkiniChinaMinyak Dunia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Accelerates Rare Earth Ambitions, Partners with Malaysia in Global Race for Critical Minerals
  • Southeast Asia Faces Refugee Crisis as Aid Shrinks and Human Trafficking Risks Surge
  • US Backs Indonesia’s Digital Crackdown on Human Trafficking at Sea
  • Middle East Conflict Exposes Southeast Asia’s Energy Vulnerability
  • MSCI Keeps Indonesia in Emerging Market Club but Flags Transparency Risks in Stock Market
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.