• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

IFAD: Krisis Pangan Global Makin Memburuk, Kelaparan Meningkat

by Redaksi Asiatoday
January 19, 2023
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Efek Coronavirus, 500 Juta Penduduk Dunia Kini Diambang Kemiskinan

Kemiskinan global meningkat tajam imbas pandemi Covid-19. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, DAVOS – Kepala Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (International Fund for Agricultural Development/IFAD) memperingatkan dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) yang digelar pada Rabu (18/1) bahwa krisis pangan yang sedang berlangsung kemungkinan akan berlanjut tahun ini.

“Untuk 2023, kami tidak memperkirakan situasi yang lebih baik dari 2022. Beberapa hambatan dalam rantai pasokan global yang kami lihat pada 2022 akan berdampak pada 2023,” kata Presiden IFAD Alvaro Lario kepada Xinhua.

“Kami bekerja dengan banyak mitra kami untuk juga mencari cara bagaimana melancarkan situasi pupuk. Namun, mengingat musim tanam pada 2022, tidak akan ada banyak kabar baik untuk 2023,” imbuhnya.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Kelaparan Meningkat

Menurut Lario, meski tindakan telah diambil untuk mengatasi krisis pangan, semua itu hampir tidak cukup dan akan dibutuhkan lebih banyak investasi lagi.

“Kami melihat banyak petani kecil menderita karena krisis biaya hidup, terbatasnya akses untuk mendapatkan pangan dan pupuk. Sayangnya, musim tanam telah hilang,” katanya.

“Meski demikian, ada beberapa inisiatif yang sedang berlangsung tentang bagaimana mengatasi kekurangan sistem pangan. Beberapa di antaranya berhubungan dengan perpajakan, subsidi, distribusi, dan produksi. Kami sedang mencari cara-cara untuk meningkatkan investasi dalam sistem pangan secara besar-besaran,” lanjutnya.

Menurut IFAD, tiga perempat orang termiskin di dunia tinggal di daerah pedesaan di negara berkembang. Sebagian besar dari mereka bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian.

Perubahan iklim, pertumbuhan populasi global, serta harga pangan dan energi yang tidak stabil berpotensi mendorong tambahan jutaan orang yang rentan ke dalam kemiskinan dan kelaparan ekstrem pada 2030.

Menurut laporan “State of Food Security and Nutrition” yang dipublikasikan pada Juli lalu oleh lima badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk IFAD, dunia semakin tertinggal dalam upaya untuk mengakhiri kelaparan dan kemiskinan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) 2030.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa jumlah orang yang terdampak oleh kelaparan secara global meningkat menjadi 828 juta orang pada 2021, naik sekitar 150 juta orang sejak pandemi COVID-19 mulai merebak.

Peran China

Lario juga mengatakan bahwa China dapat menjadi contoh tentang bagaimana mengentaskan kemiskinan absolut.

“China adalah mitra penting bagi kami di IFAD,” katanya.

Sebagai negara peminjam sekaligus donor, China telah memainkan “peran fundamental” dalam kerja sama segitiga Selatan-Selatan, kata kepala IFAD itu.

Kerja sama Selatan-Selatan mengacu pada kerja sama pembangunan antara negara-negara berkembang di kawasan Global South. Ketika kerja sama semacam itu melibatkan dukungan dari mitra utara, maka kerja sama itu disebut sebagai kerja sama Segitiga.

“Mengingat apa yang telah dialami China selama beberapa dekade terakhir, ini sungguh merupakan contoh yang baik tentang bagaimana mengangkat ratusan juta orang keluar dari kemiskinan. Kami masih bekerja sama dengan China untuk mengatasi kemiskinan di pedesaan, dan mereka telah menjadi pelaku fundamental bagi kami,” kata Lario.

Pada 2021, China mengumumkan “kemenangan sepenuhnya” dalam perjuangannya untuk mengentaskan kemiskinan, yang berarti kemiskinan absolut telah diberantas di negara dengan populasi terbanyak di dunia itu. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: IFADInternational Fund for Agricultural DevelopmentKelaparanKrisis Pangan
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.