• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

IMF: Ekonomi Asia Tenggara Hanya Tumbuh 4,9 Persen di 2021

by Redaksi Asiatoday
April 16, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
IMF: Tren Penurunan Ekonomi Asia Bertahan hingga 2022

Dana Moneter Internasional (IMF). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia Tenggara disaat kawasan itu seharusnya menjadi lebih optimis terhadap ekonomi global dan Asia-Pasifik.

Menurut IMF, perekonomian 5 negara berkembang terbesar di Asia Tenggara secara kolektif hanya tumbuh sebesar 4,9 persen pada tahun 2021, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,2 persen.  Kelima negera tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Wakil Direktur IMF untuk Asia dan Pasifik Jonathan Ostry, mengatakan peningkatan kasus Corona Covid-19 dan lockdown yang diperbarui sangat mengurangi prospek ekonomi beberapa negara di Asia Tenggara.

RelatedPosts

Indonesia Targets Global Seafood Investment as Fishery Exports Reach US$6.27 Billion

Global Investors Double Down on Indonesia’s Nickel Boom With $169 Million HPAL Deal

Indonesia Accelerates US$20 Billion Masela Gas Project to Reinforce Energy Security Amid Global Turmoil

“Kami prihatin tentang prospek pariwisata, kapan pasar tersebut akan dibuka kembali dan lockdown tambahan serta tindakan lanjutan yang diciptakan oleh penyakit tak terduga di beberapa negara tersebut,” jelas Ostry, sebagaimana dikutip dari CNBC, Jumat (16/4/2021).

Indonesia, Malaysia, dan Filipina termasuk di antara negara-negara yang harus memperketat beberapa pembatasan di tahun ini menyusul lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi. Vaksinasi di negara-negara tersebut juga berjalan lebih lambat dibandingkan dengan banyak negara di belahan dunia lainnya.

Statistik yang dihimpun oleh Our World in Data menunjukkan bahwa 3,76 persen orang di Indonesia telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid. Meski tampaknya seperti kabar yang bagus, angka ini lebih rendah dari tingkat global yang mencapai sebesar 5,76 persen. Pangsa tersebut masing-masing berada di 1,8 persen dan 0,96 persen untuk Malaysia dan Filipina, menurut data.

Penurunan dalam perkiraan pertumbuhan untuk beberapa negara Asia Tenggara terjadi karena IMF menaikkan perkiraan pertumbuhan untuk kawasan Asia-Pasifik yang lebih luas dari 7,3 persen menjadi 7,6 persen untuk tahun ini.

IMF juga menaikkan proyeksi pertumbuhan 2021 untuk ekonomi global dari 5,5 persen menjadi 6 persen.

Negara-negara ekonomi maju seperti Jepang, Korea Selatan, Australia dan Selandia Baru berada di belakang prospek Asia-Pasifik yang lebih cerah tahun ini.

“Asia adalah kawasan yang sangat terbuka dan berorientasi keluar dan akan ada limpahan positif dari gambaran AS yang lebih baik dan stimulus fiskal AS yang lebih kuat, terutama untuk negara-negara maju di Asia,” jelasnya.

Diantara negara berkembang di kawasan itu, IMF meningkatkan proyeksi pertumbuhannya untuk China dan India. China sekarang diharapkan tumbuh 8,4 persen pada tahun ini, lebih tinggi dari perkiraan IMF sebelumnya sebesar 8,1 persen. Sementara India diproyeksikan tumbuh 12,5 persen, lebih cepat dari 11,5 persen yang diperkirakan IMF sebelumnya.

Namun, Ostry mengatakan masih ada “kekhawatiran besar” tentang lonjakan kasus Covid-19 di India. Negara Asia Selatan minggu ini mengambil alih Brasil sebagai negara dengan infeksi terparah kedua, tepat di belakang AS.

“Dalam kasus tertentu di India, Saya pikir proyeksi pada (angka) 12,5 persen (itu konservatif), yang lain lebih tinggi dari itu dan kami masih baik-baik saja dengan angka itu meskipun pasti ada risiko penurunan,” pungkas Ostry.

Ostry menunjukkan bahwa peningkatan infeksi di India sejauh ini terbatas hanya pada negara bagian dan wilayah tertentu saja dan belum menjadi masalah pada ruang lingkup nasional. (ATN)

Tags: Asia BusinessIMFPertumbuhan Asia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Limp Bizkit Names Malaysia as Its Only Asia Stop for 2026, Positioning Kuala Lumpur as Regional Rock Capital
  • Indonesia Targets Global Seafood Investment as Fishery Exports Reach US$6.27 Billion
  • Indonesia, U.S. Deepen Air Defense Cooperation as Indo-Pacific Security Challenges Grow
  • Final Hours to Predict the 2026 World Cup Champion: Mansion Sports FC Offers IDR100 Million Prize
  • Venezuela Quake Disaster: UN Rallies International Emergency Response
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.