• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, July 15, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

IMF: Prospek Ekonomi Global Tidak Pasti, Pertajam Gap Negara Kaya dan Miskin

by Redaksi Asiatoday
January 19, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
USD1 Triliun Siap Dikucurkan, IMF Galang Solidaritas Global Hadapi Wabah Covid-19

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan prospek ekonomi global tahun ini penuh ketidakpastian. Kondisi ini membuat gap antara negara yang kaya dan miskin semakin tajam.

Menurut Direktur Pelaksana IMF  Kristalina Georgieva, sebagai pemberi pinjaman global, IMF membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk membantu negara-negara yang memiliki banyak utang.

Georgieva telah menganjurkan alokasi baru mata uang IMF, yakni Special Drawing Rights (SDRs). Dia mengungkap IMF akan lebih banyak menggunakan dana untuk mengatasi krisis kesehatan dan ekonomi.

RelatedPosts

California Seeks Strategic Partnership with Indonesia

FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny

Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert

Selain itu, IMF akan mempercepat perpindahan ke digital serta ekonomi hijau. Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, IMF telah memblokir alokasi SDR.

Pasalnya, pemerintah AS merupakan pemegang saham terbesar IMF. Alokasi SDR merupakan langkah yang mirip dengan bank sental mencetak uang dan memberikan lebih banyak sumber daya ke negara kaya.

Georgieva mengatakan IMF dengan cepat meningkatkan pembiayaan lunak ke pasar berkembang dan ekonomi berkembang, termasuk melalui sumbangan dari negara-negara anggota sekitar US$20 miliar dalam SDR yang ada.

Georgieva memandang, pembiayaan lunak akan terus memainkan peran penting, tetapi diperlukan langkah-langkah lebih lanjut.

“Ini menjadi sangat penting, bahkan lebih penting, bagi kami untuk dapat memperluas kapasitas kami untuk mendukung negara-negara yang tertinggal,” kata Georgieva, dikutip dari Reuters, Selasa (19/1/2021).

Dikatakan, alokasi SDR baru tidak pernah dihapus oleh anggota IMF. Bahkan, menurutnya beberapa anggota terus membahas sebagai langkah yang mungkin dilakukan.

Kemungkinan penjualan emas dari cadangan IMF akan memiliki potensi pembiayaan untuk IMF. Dia mengharapkan anggota G20 untuk memperpanjang moratorium pembayaran utang negara termiskin, yang hingga saat ini dijadwalkan berakhir pada Juni.

Menteri Keuangan Swedia Magdalena Andersson sekaligus Ketua Baru Komite Pengarah IMF mengatakan jelas bahwa kebutuhan likuiditas tetap besar. Dia akan berkonsultasi dengan negara-negara anggota mengenai opsi untuk memperluas likuiditas. (ATN)

Tags: IMFPertumbuhan Ekonomi
No Result
View All Result

Terbaru

  • California Seeks Strategic Partnership with Indonesia
  • Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT
  • FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny
  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.