• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Indonesia Bentuk Pusat Studi Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara

by Redaksi Asiatoday
March 15, 2023
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Negara di ASEAN tak akan Pernah Akui Klaim China di Laut China Selatan

Pulau buatan China di Laut China Selatan. Ist

ASIATODAY.ID, TANJUNG PINANG – Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN), Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menandatangani MoU kerja sama dengan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjung Pinang, Kepuluan Riau tanggal 9 Maret 2023.

“Melalui MoU kerja sama ini diharapkan BSKLN dan UMRAH dapat saling mendukung dalam melakukan riset bersama khususnya terkait isu-isu yang berkembang di Laut China Selatan”, kata Yayan G.H. Mulayana, Kepala BSKLN, Kemlu, dikutip Rabu (15/3/2023).

Sebagai realisasi dari kerja sama ini, Kepala BSKLN dan Rektor UMRAH sepakat untuk membentuk Pusat Studi Laut Natuna Utara (North Natuna Sea Reseach Center) dan Pusat Studi Laut China Selatan di UMRAH.

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

“Kerja sama ini dinilai tepat mengingat UMRAH berada di kawasan yang berhadapan langsung dengan Laut China Selatan”, lanjut Yayan yang juga diamini Rektor UMRAH, Prof. Agung Dhamar Syakti.

Penandanganan kerja sama BSKLN dan UMRAH dilaksanakan di sela-sela penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD): Evaluasi penyelenggaraan Workshop Pengelolaan Konflik di Laut China Selatan bertempat di Ruang Tanjak, UMRAH.

FGD sendiri menghadirkan 3 narasumber, yaitu Dr. Andi Arsana dari UGM, Dr. Irman Gusman dari UNPAD,  dan Dr. Sayed Faizan dari UMRAH, dangan Penanggap Dr. Irman Lanti dari UNPAD.

Dari FGD diperoleh masukan bahwa penyelenggaran workshop dinilai masih relevan dalam upaya pengelolaan potensi konflik di Laut China Selatan.

Namun demikian, para pembicara memandang perlunya kerja sama yang lebih praktis dan bermanfaat bagi para pihak, seperti pemanfaatan Laut China Selatan dalam mengelola blue economy termasuk untuk keperluan fisheries. Terdapat juga pemikiran agar dilakukan eksposur yang lebih luas agar Workshop mendapat dukungan konstituen domestik karena keberhasilan suatu program tidak terlepas dari diplomasi publik.

Selain itu juga dipandang perlu untuk membawa Workshop menjadi platform kerja sama yang high profile.

Indonesia telah menyelenggarakan Workshop pengelolaan potensi konflik di Laut China Selatan sejak tahun 1990. Sejak awal penyelenggaraan Worshop LCS dalam format 1.5 track ini memang tidak dirancang untuk menyelesaikan seluruh permasalahan di kawasan, melainkan lebih untuk menciptakan “a better atmosphere” dan “a sense of community” di antara seluruh pihak yang berkepentingan.

Penyelenggaraan Worshop LCS memiliki tiga tujuan utama, yaitu mendorong dialog di antara para pihak di kawasan;  melalui dialog, diharapkan tercipta kepercayaan/trust; dan keengganan dari para pihak untuk berkonflik melalui berbagai kerja sama konkret.

Pada kesempatan itu, Yayan Mulyana juga memberikan Kuliah Umum berjudul Dimensi Maritim dalam Dinamika Indo – Pasifik. Dihadapan 180 mahasiswa dan civitas akademika UMRAH, ia menguraikan mengenai pentingnya Indonesia mempunyai strategi yang tepat di Indo Pasifik dan adanya mekanisme resolusi konflik di masa depan untuk wilayah yang diwarnai oleh kompetisi antara Amerika Serikat (AS) dan China, potensi hotspot di Indo Pasifik, terutama di LCS, selat Taiwan dan Samudera Hindia.

Para mahasiswa memberikan respon atas permasalahan yang terjadi di Indo Pasifik, terutama menyangkut masa depan rivalitas AS – China dalam konteks Indo Pasifik. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Indo PasifikLaut China SelatanZEE Natuna Utara
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.