• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Indonesia Butuh Investasi Rp175 Triliun Bangkitkan Kembali Industri Tekstil

by Redaksi Asiatoday
December 12, 2019
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Butuh Investasi Rp175 Triliun Bangkitkan Kembali Industri Tekstil

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia membutuhkan investasi yang tidak kecil untuk membangkitkan kembali industri tekstil dalam negeri yang tengah meredup.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, revitalisasi industri tekstil dari hulu hingga ke hilir membutuhkan investasi sebesar Rp175 triliun. Perbaikan sektor ini akan memakan waktu tujuh tahun.

“Kalkulasi Rp175 triliun ini termasuk revitalisasi mesin dibagi hulu dan hilir,” ujar Bahlil dalam keterangannya yang diterima Kamis (12/12/2019).

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Bahlil menguraikan, revitalisasi tersebut antara lain peremajaan mesin, peningkatan kapasitas produksi hingga memacu ekspor. Namun, dalam tahap pertama, pemerintah memprioritaskan kebutuhan penggantian mesin produksi dengan anggaran mencapai Rp75 triliun.

“Biaya mesin-mesinnya mencapai Rp75 triliun. Kita masih petakan mana yang jadi prioritas utama,” jelasnya.

Bahlil optimistis, revitalisasi industri tekstil ini diyakini mendongkrak cadangan devisa dari USD13,2 miliar pada 2018 menjadi USD49 miliar di 2030.

“Devisa kita akan meningkat dan di 2030 menjadi USD49 miliar dengan net devisa USD30 miliar. Net devisa itu ekspor, minus impor,” imbuhnya.

Bahlil menambahkan peremajaan tersebut akan mengatasi kasus tutupnya pabrik-pabrik tekstil di Indonesia akibat penetrasi produk garmen impor yang begitu tinggi.

Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) mencatat, sepuluh pabrik tekstil di Indonesia gulung tikar hingga September 2019.

“Penetrasi produk impor tinggi,, sementara daya saing industri kita lemah,” terang Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam keterangannya, Kamis (12/12/2019).

Menurut Bahlil, upah tenaga kerja dan tingginya biaya produksi juga menjadi penyebab kinerja pabrik tekstil merosot. Ia memandang, bahan baku dalam negeri lebih mahal sehingga harga tekstil produk Indonesia menjadi kalah saing.

“Bahan baku di dalam negeri memang mahal, karena mesin-mesin kita yang menua sehingga perlu peremajaan,” ungkapnya.

Sejauh ini kata Bahlil, pihaknya masih mengumpulkan jumlah pabrik yang resmi ditutup dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) maupun Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI).

Sementara itu, Ketua Umum APSyFI Ravi Shankar menambahkan harga gas, harga listrik, aturan perpajakan hingga kepabeanan turut mempersulit ekspansi industri tekstil dalam negeri.

Ia berharap pemerintah menciptakan kebijakan yang lebih harmonis dan berpihak pada industri di Tanah Air.

“Saat ini pasar Indonesia dalam kondisi kritis karena barang masuk, barang hulu, barang hilir, garmen semuanya impor,” ujarnya.

Ravi menjelaskan pasar tekstil di bagian hulu didominasi oleh Tiongkok dan India. Sementara sektor hilir dipegang Vietnam dan Bangladesh. Negara-negara tersebut memiliki kapasitas produksi yang besar sehingga mampu merambah pasar Indonesia. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Asosiasi TekstilBKPMImpor TekstilIndustri Tekstil
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.