ASIATODAY.ID, PALANGKA RAYA – Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian menimbulkan dampak membahayakan.
Hingga pekan kedua September 2019, setidaknya 3.394 orang di Kalimantan Tengah menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Jumlah penderita ISPA meningkat sekitar 495 orang ketimbang pekan pertama September 2019, sebanyak 2.889 orang.
“Untuk mengantisipasi agar tidak meningkat, Dinkes sudah mengaktifkan posko pelayanan kesehatan di Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Pemadam Kebakaran (BPBPK),” kata Kepala Dinkes Kalteng Suyuti Syamsul di Palangka Raya, saat dihubungi, Selasa (24/9/2019).
Saat ini kata dia, Dinkes Kalteng telah membentuk emergency mobile team yang bertugas memberi pelayanan ke pemadam kebakaran lahan dan penduduk yang terdampak kabut asap.
Menurut Suyuti, pemerintah provinsi telah berkoordinasi dengan pihak terkait, terutama pelayan kesehatan. Bupati/wali kota se-Kalteng juga sudah disurati agar membebaskan biaya pengobatan, khususnya bagi masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan.
“Sekarang ini kan Kalteng sudah menetapkan status tanggap darurat. Jadi penanganan kesehatan tentunya harus diperhatikan,” imbuhnya.
Data Dinkes Kalteng menyebutkan, jumlah rumah sehat oksigen sebanyak 194 tersebar di seluruh provinsi. Rumah sehat oksigen tersebar di 159 puskesmas, 20 rumah sakit dan 15 di aula pemerintah maupun bangunan milik masyarakat.
Luasnya wilayah membuat banyak masyarakat yang terpapar kabut asap belum terjangkau. Pihaknya menyiapkan dua unit bus dan tiga ambulans memberikan pelayanan oksigen kepada masyarakat.
“Jadi ini mobil oksigen bergerak di berbagai titik kumpul masyarakat. Harapannya, tidak bertambah lagi masyarakat yang terkena ISPA,” ujarnya.(AT Network)
,’;\;\’\’
