• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Indonesia Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Lebih Besar di 2023

by Redaksi Asiatoday
December 29, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
INFID Desak Pemerintah Indonesia Berperan Aktif Mengatasi Pemanasan Global

Pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Foto : KLHK

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang lebih besar pada 2023 dibandingkan 2022. Ancaman itu terungkap dari peringatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, ancaman itu disebabkan karena curah hujan tahunan 2023 diprediksi umumnya pada kategori normal, dan akan sedikit lebih rendah ketimbang 2022.

Berdasarkan kondisi iklim hingga Juni 2023, secara umum potensi rendah untuk kejadian titik api. Perlu diwaspadai kemarau 2023 (Agustus-September) yang dapat lebih besar potensi Karhutlanya dibanding saat kemarau basah di tahun 2020-2022.

RelatedPosts

Pacific Climate Crisis: Papua’s Last Glacier Nears Extinction

Indonesia Leads Southeast Asia’s Push for Deep-Sea Research Independence

Australia and Indonesia Lead Regional Ocean Conservation Initiative

“Secara khusus, perlu diwaspadai potensi Karhutla di wilayah utara Sumatra, yaitu Sumatra Utara, Riau dan Aceh pada Februari 2023,” kata Dwikorita dalam keterangan resmi, Kamis (29/12/2022).

Dalam menghadapi ancaman Karhutla ke depan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengingatkan kembali kepada jajarannya untuk mengedepankan lima instrumen terkait solusi permanen pengendalian Karhutla. Yaitu sistem pemantauan hotspot dan operasi, teknologi modifikasi cuaca (TMC), operasi lapangan, landscape manajemen gambut dan law enforcement serta livelihood dan kesejahteraan masyarakat.

“Terima kasih kepada semua pihak, baik di pusat maupun daerah, bahwa pada tahun 2022 kita sudah melalui dengan baik. Masih ada catatan kejadian karhutla, tetapi masih dapat diatasi dengan baik,” ujar Siti Nurbaya.

Sementara itu, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wahyu Marjaka mengungkapkan, berdasarkan satelit Terra/Aqua (NASA) dengan confident level di atas 80 persen, terdapat 1.297 titik hotspot pada 1 Januari-28 Desember 2022. Pada periode yang sama tahun 2021 jumlah hotspot sebanyak 1.278 titik.

“Terdapat kenaikan jumlah hotspot sebanyak 19 titik atau 1,49 persen,” kata Wahyu.

Sementara, luas Karhutla periode 2022 terdapat penurunan akumulasinya, sebesar kurang lebih 154.180 hektare (42,96 persen) ketimbang periode 2021. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

 

Tags: Kebakaran Hutan dan LahanKrisis Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Jakarta Museums Become SDGs Learning Hubs
  • Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism
  • Why North Bali Is Becoming the Favorite Destination for International Travelers
  • Danantara Powers Indonesia’s New Industrial Era
  • ITB-Vietnam CT Group Forge ASEAN Tech Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.