• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Industri Perbankan Digital Tumbuh Pesat di ASEAN

by Redaksi Asiatoday
March 15, 2022
in Business
Reading Time: 1 min read
A A
0
Fintech Kian Agresif, Industri Perbankan Bisa Digilas

Fintech (Finansial Technology) di Indonesia. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Masa depan industri perbankan digital di Asia Tenggara (ASEAN) diproyeksi makin cerah.

Dalam laporan FinTech in ASEAN 2021 dari UOB, PwC Singapore dan Singapore FinTech Association (SFA), ASEAN telah mengalami perkembangan pesat baik bank digital maupun layanan perbankan digital yang disediakan oleh perusahaan lama.

Hal ini disebabkan adanya peningkatan layanan keuangan digital dan dorongan pemerintah untuk mempercepat inklusi keuangan.

RelatedPosts

Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts

Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026

ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution

Survei yang menyasar pada rentang 18 hingga 55 tahun ke atas ini menilai bahwa di tahun-tahun mendatang, ekosistem perbankan digital yang inklusif dan terbuka diperkirakan akan terus tumbuh.

“Perkembangan ini didorong oleh tiga bidang, yakni bank tradisional yang menawarkan layanan digital canggih (digi-banking), bank digital murni, dan perusahaan FinTech yang merambah ke ruang perbankan digital,” demikian yang dikutip dari laporan tersebut, pada Senin (14/3/2022).

Dalam survei itu juga, preferensi saluran yang bervariasi, masalah kepercayaan, dan privasi data dapat menjadi hambatan potensial untuk adopsi.

“Bagi minoritas yang tidak menginginkan bank digital saja, hambatan untuk adopsi adalah ketakutan akan keamanan data sebesar 58 persen, serta kurangnya kepercayaan pada institusi tanpa kehadiran fisik sebesar 52 persen,” demikian laporan tersebut.

Di Indonesia, hanya 7 persen responden mengatakan mereka tidak akan tertarik dengan rekening bank digital. 58 persen responden tertarik dan 35 persen lainnya memilih menunggu sambil mengobservasi rekening bank digital.

Lebih lanjut, konsumen juga sudah terbiasa dengan pilihan dalam hal layanan daring (online) maupun luring (offline), dan survei tersebut menunjukkan bahwa preferensi terbagi rata mulai dari saluran digital saja, kontak fisik, atau keduanya.

Indonesia memiliki jumlah responden tertinggi yang lebih memilih cabang bank atau ATM, yakni sebanyak 43 persen dan diikuti oleh Vietnam sebanyak 33 persen. (ATN)

Tags: Asia DigitalAsia FintechBank DigitalFintech Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.