• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Investasi di Asia Tenggara, Indonesia Kalah Saing Dari Vietnam

by Redaksi Asiatoday
June 29, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Gaet Investor Global, DKI Optimis Capai Target Investasi Rp100,2 Triliun 2019

Pergerakan investasi global. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia harus segera berbenah jika ingin menjadi pilihan para investor. Pasalnya, untuk di Asia Tenggara, Indonesia sudah kalah bersaing dengan Vietnam.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, salah satu alasan investor asing lebih memilih negara ASEAN lain seperti Vetnam dalam berinvestasi adalah harga tanah yang jauh lebih mahal di Indonesia untuk membangun kawasan industri.

Selain persoalan regulasi, harga tanah di Indonesia mencapai Rp3,9 juta per meter persegi atau jauh lebih mahal ketimbang tanah di Vietnam.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

“Tanah di Vietnam itu disiapkan oleh negara atau disewa jangka panjang. Kalau tidak, dibayar maksimal Rp1,2 juta per meter. Di Indonesia, 1 meter tanah harganya bisa sampai Rp3,9 juta,” kata Bahlil dalam forum webinar, Minggu (28/6/2020).

Selain itu, upah buruh Indonesia juga kalah bersaing dengan negara ASEAN lain yakni hampir mencapai Rp4 juta per bulan. Sedangkan upah buruh di negara lain seperti Vietnam dan Thailand sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Faktor kenaikan upah per tahun mencapai 8,7 persen semakin membuat investor asing tidak berminat ke Indonesia.

Menyangkut Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang datang ke Indonesia, seperti di proyek nikel Morowali dan Konawe, Bahlil memastikan bahwa para TKA tersebut memang memiliki kemampuan khusus yang belum dimiliki tenaga kerja Indonesia.

“Mereka orang-orang yang memiliki skill dan telah diverifikasi lewat BKPM karena ada kerja sama antara Menaker, Menkumham dan BKPM untuk mengatur prosedur atau tata cara ketika ada TKA masuk Indonesia,” jelas Bahlil.

Bahlil mengungkapkan, ada banyak keuntungan jika investasi asing masuk Indonesia seperti peningkatan modal asing (PMA), penciptaan lapangan kerja, hingga pendidikan dan pelatihan bagi sumber daya manusia atau pekerja lokal. (ATN)

Tags: Asia BusinessBKPMInvestasi Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.