• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Tuesday, July 14, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Larangan Ekspor Nikel Untuk Tarik China Masuk Indonesia

by Redaksi Asiatoday
September 9, 2019
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Larangan Ekspor Nikel Untuk Tarik China Masuk Indonesia

Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, larangan ekspor nikel diberlakukan, salah satu tujuannya untuk menarik China agar berinvestasi di Indonesia.

Pasalnya, selama ini sekitar 98 persen ekspor nikel Indonesia dikirim ke China, sehingga China pun tak perlu repot untuk berinvestasi di Indonesia.

“Kamu yang tadi punya smelter, kamu masih boleh ekspor sampai Januari 2020, tapi yang tidak punya smelter bagamana? Mau ekspor lagi ke China? Kalau kau mau ekspor lagi ke China, mereka enggak mau relokasi industrinya ke kita,” terang Luhut, Senin (9/9/2019).

RelatedPosts

Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert

A Decade After South China Sea Ruling, Indo-Pacific Nations Recommit to Maritime Order

Indonesia Boosts Energy Security With 45,900 Tons of LPG From US

Untuk itu, Luhut meminta pengusaha nikel untuk tetap serius menyelesaikan proyek smelter-nya dan tidak mengulur kesempatan untuk menjual dalam bentuk mentah.

Luhut juga meminta pelaku usaha tambang nikel untuk tidak menolak atau mengulur-ulur kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel lantaran pelaku usaha sudah diberikan waktu lebih dari 2 tahun untuk membangun smelter.

Menurut Luhut, pengusaha seharusnya tidak menjerit jika mereka benar-benar menjalankan kewajiban membangun smelter, dimana bisa rampung dalam dua tahun.

“Bangun smelter itu butuh 2 tahun. Ini lebih kenapa diulur-ulur? Nah, jadi kamu pengusaha sebenarnya mau menghidupkan ekspor. Kamu enak. Tapi negara enak enggak? Kan, tidak,” ujar Luhut.

Luhut mengakui nilai ekspor nikel selama ini cukup besar, bahkan sempat menyentuh US$350 juta per tahun. Namun, angka itu masih jauh dari potensi.

“Jika nikel yang diekspor sudah diberi nilai tambah, potensi ekspor yang bisa diraup bisa menyentuh US$7 miliar, bahkan masih bisa naik menjadi US$12 miliar-US$13 miliar per tahun,” paparnya optimis.

Saat ini kata Luhut, pemerintah sedang berupaya menyelesaikan keluhan dari pelaku usaha nikel terkait adanya dugaan kartel di industri pengolahan dalam menentukan harga nikel di pasar.

“Harga akan ditentukan pemerintah. Tidak diatur oleh yang sudah punya smelter. Kamu pelaku usaha yang sedang bangun smelter. Kami yang beli dengan harga sesuai aturan pemerintah, tapi kamu harus selesaikan smeltermu itu,” tandas Luhut. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Bijih NikelIndustri SmelterLarangan Ekspor NikelNikelOre NikelSmelter FeronikelTambang Nikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • Freeport’s Grasberg Recovery: 21 Tonnes of Gold Target in 2026
  • Japan’s Takeda Places US$30 Million Bet on Indonesia’s Biopharma Ambition
  • ASEAN’s Chip Race: Indonesia and Malaysia Forge New Semiconductor Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.