• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Laut Natuna Diinvasi Nelayan Asing, Nelayan Indonesia tidak Berdaya

by Redaksi Asiatoday
June 13, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Mencuri Ikan di Perairan Natuna, 3 Kapal Vietnam Ditangkap

Penangkapan Kapal Ikan Vietnam di Natuna. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia Aan Kurnia mengungkapkan, perairan Laut Natuna kerap menjadi sasaran Invasi oleh nelayan asing.

Laut Natuna tak jarang menjadi lokasi penangkapan ikan secara ilegal atau illegal fishing lantaran kurangnya daya saing para nelayan lokal dibanding nelayan asing.

Menurut Aan Kurnia, wilayah laut Natuna termasuk wilayah paling rawan lantaran adanya overlapping atau tumpang tindih antara Indonesia dengan negara lain, salah satunya Vietnam.

RelatedPosts

BRICS Pushes for New Global Order: India, Russia and China Deepen Strategic Coordination

IsDB Unites 78 Nations Through $6 Billion in Agreements

Indonesia’s Film Industry Trapped as a Foreign Content Market Amid Korean and Chinese Drama Surge

“Kita mengklaim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) agak ke utara, sementara Vietnam mengklaim landas kontinen agak ke selatan,” ujarnya dalam webinar ‘Tantangan Indonesia untuk Mengakhiri Praktik Illegal Fishing’, Jumat (12/6/2020).

Berdasarkan aturan, di daerah overlapping tidak diperbolehkan ada kegiatan khususnya yang bersifat eksplorasi dan eksploitasi. Namun, pada kenyataannya Vietnam sudah menangkap ikan di sana.

“Nelayan kita belum siap untuk bersaing dengan nelayan asing yang sebetulnya di situ ada sumber daya alam (SDA) ikan yang melimpah. Itu baru ikan, kita belum siap untuk memanfaatkan wilayah kita sendiri,” paparnya.

Aan mengungkapkan, nelayan di Natuna hanya menggunakan kapal berukuran 5 gt – 10 gt. Kebanyakan dari para nelayan itu juga belum memiliki mindset bersaing, melainkan hanya sekedar memenuhi kebutuhan makan pada hari itu saja.

“Seharusnya kita tidak hanya berpikir mencegah atau menangkap, tapi juga bisa mengeksplorasi,” katanya.

Aparat penegak hukum bahkan telah menemukan sejumlah kapal Vietnam yang menangkap ikan di wilayah overlapping yang bermasalah.

Temuan itu berdasarkan hasil patroli dari Bakamla, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), TNI AL. Bahkan hari ini KKP telah menangkap lima kapal yang melakukan tindakan illegal fishing.

“Kalau untuk present at sea, mungkin kami bisa hadir di laut. Kita kalah dengan Vietnam. Nelayan kita belum bisa memanfaatkan SDA di Vietnam,” tuturnya.

Permasalahan kelautan juga ditambah dengan belum bersatunya komando untuk menjaga keamanan laut di Tanah Air. Ini terjadi karena ada berbagai kementerian dan lembaga yang sama-sama menjalankan penegakan hukum di laut, seperti Bakamla, KKP, TNI, Polri, dan lainnya.

CEO Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) Mas Achmad Santosa mengatakan Natuna bagian utara menjadi wilayah paling rawan pencurian ikan oleh kapal ikan asing.

Dua negara yang paling banyak melanggar di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 711 yaitu China dan Vietnam.

“Salah satu faktor pendorong mereka masuk menangkap ikan di wilayah ZEE Indonesia adalah keterbatasan atau langkanya sumber daya ikan mereka dan ambisi mereka untuk tetap menjadi major exporter ikan di dunia,” tandas Achmad. (ATN)

Tags: BakamlaIndonesia Ocean Justice InitiativeNatunaZEE Natuna UtaraZEEI
No Result
View All Result

Terbaru

  • BRICS Pushes for New Global Order: India, Russia and China Deepen Strategic Coordination
  • IsDB Unites 78 Nations Through $6 Billion in Agreements
  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.