• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Lebih Tiga Ratus Satwa Gajah Mati di Sri Lanka Sepanjang 2019

by Redaksi Asiatoday
January 12, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Lebih Tiga Ratus Satwa Gajah Mati di Sri Lanka Sepanjang 2019

Satwa Gajah di Sri Lanka. ist

ASIATODAY.ID, COLOMBO – Aktivis pecinta lingkungan dari Gerakan Reformasi Lahan dan Pertanian di Sri Lanka mengungkap tragedi kematian satwa gajah dalam jumlah besar di negeri itu.

Sepanjang 2019, setidaknya ada 361 satwa gajah mengalami kematian di Sri Lanka. Ini adalah angka kematian gajah tertinggi yang dilaporkan Sri Lanka sejak 1948.

“Gajah-gajah tersebut sebagian besar mati karena dibunuh. Mereka dianggap hama oleh para petani,” kata Sajeewa Chamikara, aktivis lingkungan dari Gerakan Reformasi Lahan dan Pertanian, melansir BBC, Minggu (12/01/2020).

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Saat ini, diperkirakan satwa gajah liar di Sri Lanka tersisa sekitar 7.500 ekor.

Menurut Sajeewa Chamikara, sekitar 85 persen kematian gajah tahun lalu disebabkan oleh aktivitas manusia.

“Masyarakat menggunakan pagar listrik, racun, dan bahan peledak yang disembunyikan sebagai makanan untuk membunuh para hewan ini,” jelasnya.

Perluasan desa dan pertanian di Sri Lanka juga nampaknya berkontribusi pada kematian gajah-gajah tersebut. Akibat dari perluasan, pasokan makanan dan air untuk para hewan ini berkurang.

Para pejabat berjanji untuk bekerja menyelesaikan konflik antara hewan dan manusia tersebut. Mereka akan menempatkan pagar di antara habitat gajah dan masyarakat pedesaan.

Namun, Chamikara mengatakan pemerintah perlu berbuat lebih banyak untuk meningkatkan kualitas kawasan lindung. Salah satu sarannya adalah dengan menangani masalah tanaman invasif yang tumbuh di atas padang rumput.

“Rencana pembangunan kami tidak ramah lingkungan. Kami butuh rencana pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya.

Salah satu penyebab gajah berkurang juga karena ditabrak kereta. Para gajah ditabrak saat mereka bermigrasi.

Sementara itu, lusinan gajah dikurung di Sri Lanka untuk mendapat penghasilan dari turis. Sedangkan yang lain dipaksa berpawai di festival lokal. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: GajahGajah Sri LankaKonflik Gajah dan ManusiaKonservasi AlamKonservasi Gajah
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.