• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, July 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Mengapa Kinerja Logistik Indonesia Tertinggal Jauh dari Negara lain?

by Redaksi Asiatoday
June 10, 2023
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Perkuat Konektivitas, AFFA Dorong ASEAN Bentuk Platform Digital Ekosistem Logistik

Ekosistem Industri Logistik. ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kinerja logistic di Indonesia sedang menjadi sorotan.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa Indeks Performa Logistik (Logistic Performance Index/LPI) Indonesia pada tahun 2023 masih kalah dari negara-negara lain.

LPI menjadi tolak ukur dalam menilai kinerja logistik suatu negara secara umum yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi di sebuah negara.

RelatedPosts

Indonesia Becomes Second-Largest Asian Market as U.S. Coal Exports Jump 158%

Mali Tightens State Control Over Gold Trade as Resource Nationalism Gains Momentum

Indonesia Boosts Agricultural Trade with 14,000-Ton Palm Feed Export to New Zealand

“LPI Indonesia tahun ini dikalahkan banyak negara yang justru semakin maju,” kata Sri Mulyani saat berbicara di acara The New SINSW di Jakarta, Jumat (9/6/2023).

Menurut Sri, ada 4 faktor yang membuat LPI Indonesia kalah bersaing dari negara lain mulai dari ketepatan waktu (timelines), keamanan internasional (international safement), kompetensi dan pelacakan (tracking and trasing).

“Pada 4 faktor ini kita menurun,” ujarnya.

Meski demikian, ada 2 indikator yang mengalami perbaikan yakni dari sisi bea cukai dan infrastruktur. Hanya saja perbaikan kedua indikator ini masih kurang optimal sehingga masih perlu ditingkatkan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan banyak negara yang meningkatkan pembatasan perdagangan antar negara (trade barrier). Hal ini menjadi hambatan bagi perdagangan lintas negara.

“Kita lihat, hambatannya memang luar biasa,” kata Airlangga dalam kesempatan yang sama.

Salah satunya pembatasan perdagangan yang dilakukan Eropa kepada Indonesia. Setidaknya sejumlah komoditas yang mengalami hambatan untuk pengiriman ke negara-negara barat, mulai dari kopi, kakao furniture, CPO, termasuk ternak sapi.

Selain itu, Eropa melakukan klasifikasi terhadap negara yang melakukan deforestasi.

Klasifikasi membuat negara pengekpor harus menambah biaya lebih besar saat mengirim produknya ke Eropa. Nilainya pun beragam, 3 persen untuk negara klasifikasi resiko rendah (low risk), 6 persen klasifikasi standar risk dan 9 persen klasifikasi resiko tinggi (high risk).

“Ini jelas menjadi trade barrier baru,” tandasnya. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Industri LogistikLogistic Performance Index
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesian Lawmaker Calls for ASEAN-China Dialogue on South China Sea
  • Indonesia Becomes Second-Largest Asian Market as U.S. Coal Exports Jump 158%
  • Indonesia Vows Justice After U.S. Pilot Killed in Papua
  • UNIDO: Adapt or Fall Behind in the Industrial Race
  • Indonesia Deepens West Africa Ties with Landmark Gambia Partnership
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.