• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Menggagas Kolaborasi Media Massa Asia Tenggara di Era Digital

by Redaksi Asiatoday
August 8, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Menggagas Kolaborasi Media Massa Asia Tenggara di Era Digital

Kemitraan di Asia Tenggara (ASEAN). Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebuah gagasan untuk membangun kolaborasi media massa di Asia Tenggara (ASEAN) mulai digulirkan. Gagasan itu untuk merespons berkembangnya media digital yang semakin masif saat ini.

Hal ini dipandang penting agar informasi yang beredar di masyarakat dapat tetap terkendali dengan bagi sehingga isu negatif yang berpotensi memecah persatuan atau mengganggu stabilitas keamanan dapat dikurangi.

Hal itu terungkap dalam forum diskusi media di Asia Tenggara yang diprakrsai Dewan Pers, Jumat (6/8/2021).

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Anggota Dewan Pers Indonesia, Agus Sudibyo mengungkapkan pada 23 februari tahun ini parlemen Australia telah mensahkan ketentuan bagi media digital dan media massa untuk berbagi informasi. Ketentuan tersebut keluar setelah terjadinya ketimpangan informasi antara media digital dan media massa umum yang ada. Terutama terkait dengan pembagian konten, keuntungan dan penggunaan data. Hal itu guna memperluas penggunaan beragam data di masyarakat yang menggunakan platform berbeda.

Menurut Agus, gangguan media telah menjadi masalah global dan perlu diselesaikan secara bersama. Hampir mustahil mengatasi gangguan yang luar biasa ini hanya dengan seorang diri.

Karena itu perlunya dipertimbangkan untuk membangun kualisi para penerbit di Asia Tenggara termasuk menjalin kerjasama dengan Australia, Uni Eropa dan lainnya.

Kavi Chongkittavorn, anggota lembaga Pers Thailand juga mengakui berkembangnya media digital telah mendorong maraknya berita rumor di masyarakat. Hal ini berdampak pada kebingunan masyarakat terlebih di masa pandemi saat ini.

Banyak informasi simpang siur terkait merek vaksin tertentu di media sosial yang dikonsumsi masyarakat. Karena itu pihaknya menggagas perlunya kerja sama lebih erat antar media di Asia Tenggara. Hal ini dibutuhkan agar dapat diperoleh informasi yang lebih berimbang antar media massa.

“Kita bisa kerjasama lebih baik karena banyak kelemahan dalam menangani Covid-19 di tiap negara,” imbuhnya.

Tan Sri Johan Jaaffar, wartawan senior Malaysia dalam kesempatan sama menyabutkan berkembangnya media digital telah membuat bisnis koran meredup. Namun, kondisi itu terjadi dibanyak negara karena gaya hidup orang telah berubah, tinggal bagaimana mendorong minat orang untuk kembali membaca. Apa yang terjadi saat ini bisa langsung dinikmati banyak orang secara rela time melalui media sosial hanya melalui ponsel.

“Ini tantangan media saat ini,” katanya.

Menurutnya, jumlah penduduk ASEAN yang mencapai sekitar 600 juta jiwa lebih menjadi pasar potensial bagi media massa khususnya iklan yang menghidupi mereka. Karena itulah dibutuhkan kolaborasi bersama agar media bisa memainkan peran penting dalam menyalurkan informasi yang bertanggung jawab ke publik di masing masing negara. Konten penting tapi bukanlah segalanya, karena konten harus ditunjang faktor lain.

“Kita terlalu lama seperti Katak dalam tempurung dan kini harus berubah, ini wake up call, dan harus cari solusinya,” imbuhnya.

Sementara itu, Bambang Harymurti, wartawan Senior Indonesia menuturkan wabah pandemi Covid-19 telah menjadi tsunami bagi bangsa Indonesia. Berkembangnya media digital saat ini telah memperburuk kondisi yang ada karena banyak beredar berita hoax yang sulit dikendalikan di media sosial. Berkembangnya media digital juga telah membuat banyak media massa harus tutup apabila mereka terlambat bertranformasi.

Namun, disisi lain berkembangnya media digital telah merubah tatanan bisnis yang kini lebih bertumpu pada model digital yang lebih cepat, praktis dan efisien

Sedangkan Virgili da Silva Guterres, Chairman Conselho de Imprensa Timor juga menyebutkan kolaborasi sudah menjadi tradisi bagi negara Asia Tenggara. Diplomasi media bisa dilakukan dan menjadi model kerja sama. Sejumlah isu publik seperti kesehatan, pendidikan menjadi masalah bersama yang bisa diatasi dengan membangun kolaborasi.

“Kita harus jamin Asia Tenggara menjadi kawasan bebas untuk setuju dan tidak setuju,” tegasnya. (ATN)

Tags: AseanAsean PressDewan Pers
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.