• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home CULTURE

Menyusuri Jejak Bahari Indonesia Lewat Ekspedisi Pelayaran Padewakang ke Australia

by Redaksi Asiatoday
January 25, 2020
in CULTURE
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Menyusuri Jejak Bahari Indonesia Lewat Ekspedisi Pelayaran Padewakang ke Australia

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebuah upaya untuk menegaskan jejak bahari Indonesia diwujudkan melalui Ekspedisi Pelayaran Kapal Padewakang ke Australia. Ekspedisi diselenggarakan dalam rangka Napak Tilas Sejarah Kemaritiman Indonesia.

Kapal Padewakang adalah salah satu kapal tradisional yang kemudian berkembang sebagai asal muasal kapal Phinisi.

Ekspedisi ini mendapat dukungan penuh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves).

RelatedPosts

Lunar New Year Meets Betawi Roots: Cultural Fusion Lights Up Jakarta’s Heart

New Agreement Boosts Saudi-China Academic and Cultural Dialogue

Indonesia’s Minister of Culture Condemns Nickel Mining in Raja Ampat

“Tidak ada alat modern kecuali handphone atau telepon genggam. Mereka menggunakan listrik dari solar sel khusus untuk mengisi baterai, memakai lampu teplok dan tembikar untuk keperluan sehari-hari. Hari ini kita lepas kapal ini dalam rangka untuk memperkuat kembali budaya maritim dan persahabatan dengan masyarakat Australia,” kata Safri Burhanuddin, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya MaritimKemenko Marves Safri Burhanuddin saat melepas tim Ekspedisi di Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, Kamis (23/01/2020), sebagaimana keterangan tertulisnya.

Safri menceritakan, tahun 2020 saat ini genap 250 tahun kedatangan James Cook dari Inggris tiba di Australia. Namun, jauh sebelum abad 16 sudah ada hubungan perdagangan orang Nusantara dengan masyarakat suku Aborigin. Suku Makassar lebih dulu sampai di Australia dengan tujuan berburu teripang.

“Sekarang adalah tugas kita untuk terus mengingatkan kembali teman-teman pelaut tradisional khususnya pencari teripang bahwa sudah ada batasan negara, agar tidak masuk ke wilayah teritorial Australia,” jelasnya.

Menurut Safri, kedepan perlu adanya pengembangan daerah perbatasan secara revolusioner agar tidak terjadi kesenjangan kesejahteraan ekonomi dengan negara tetangganya.

Untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi di Tanimbar kata dia, di luar pengembangan industri Gas Alam Masela yang sudah ada, diusulkan agar fokus dalam dua bidang yaitu perikanan dan pariwisata khususnya perkembangan perikanan budi daya.

“Kemenko Marves juga akan mendukung peningkatan infrastruktur yakni pelabuhan dan bandara untuk memperkuat transportasi dan logistik barang. Saya juga sudah berdiskusi dengan Perwakilan Konsulat-Jenderal Australia di Makassar yakni Sam Upritchard, agar mengajak para investor berinvestasi di daerah ini untuk kedua bidang tersebut,” urainya.

Kegiatan napak tilas ini didukung oleh Yayasan Abu Hanifa yang berada di Australia, Pemerintah Australia serta Pemerintah Indonesia melalui Kemenko Marves untuk memperkuat kembali hubungan persaudaraan antara Suku Bugis Makassar dengan Suku Aborigin Australia.

Kapal dalam ekspedisi ini membawa kembali perlengkapan asli sehari-hari seperti tembikar, garam, parang yang merupakan alat tukar pada abad ke-16 dan ke-17.

Hadir dalam acara pelepasan ekspedisi Sekretaris Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat Piterson Rangkoratat.

“Tanimbar ini adalah masyarakat beradat, dan juga sejak dulu dikenal sebagai pelaut yang andal. Benda-benda adat milik masyarakat Tanimbar seperti gading gajah juga emas yang secara riil itu tidak ada di Kabupaten Kepulauan Tanimbar tapi diperoleh dengan cara barter saat berlayar keliling Nusantara,” kata Piterson.

Piterson menyampaikan bahwa Ekspedisi Padewakang mengingatkan seluruh masyarakat tentang budaya nenek moyang pelaut Indonesia yang sejak dulu telah berlayar sampai mancanegara.

“Seluruh kru Padewakang ini memiliki misi dan peran yang begitu historis bagi negara dan bangsa kita. Mereka tentu ke sana membawa Merah Putih, juga persahabatan antara Indonesia dan Australia menjadi bagian yang penting dan sekaligus menjadi misi utama kita yaitu membangun hubungan kerja sama yang baik,” ujarnya.

Padewakang konon tercatat sebagai nama perahu asal Sulawesi pada akhir abad ke17. Kapal tersebut difungsikan VOC untuk mengantar surat dan sebagai kapal patroli. Dalam catatan syahbandar VOC kapal itu milik saudagar asal Sulawesi. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Ekspedisi PadewakangKemenkomaritimKerjasama Indonesia-AustraliaMaritim Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indo-Pacific Seen as Stability Buffer as Global Geopolitical Risks Rise, Indonesia Says
  • UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit
  • BRICS Pushes for New Global Order: India, Russia and China Deepen Strategic Coordination
  • IsDB Unites 78 Nations Through $6 Billion in Agreements
  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.