• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Murid-murid TK di Taiwan ‘Diracuni’ Obat Penenang agar Patuh pada Guru

by Redaksi Asiatoday
June 24, 2023
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Taiwan Komitmen Perangi Kejahatan Siber Internasional

Taiwan country. Doc

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para orang tua murid di Taiwan melakukan aksi protes menyusul laporan yang menyebut bahwa guru sekolah taman kanak-kanak (TK) memberikan obat penenang kepada para murid.

Dilaporkan Independent, pihak berwenang setempat kini telah meluncurkan penyelidikan.

Guru TK di Taipei diduga memberi siswa sirup obat batuk yang mengandung fenobarbital dan benzodiazepin.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Pada hari Minggu (18/6/2023), lebih dari 1.000 orang tua mengadakan protes di Civic Plaza, depan Balai Kota New Taipei.

Mereka menuntut adanya transparansi penyelidikan.

Orang tua yang melakukan demonstrasi mengatakan, mereka menginginkan hukuman lebih keras bagi pelaku kekerasan anak serta mekanisme perlindungan yang lebih komprehensif di prasekolah.

Laporan mengatakan, polisi belum memastikan mengapa anak-anak diduga diberi obat penenang dan sirup yang sering membuat kecanduan.

Sekolah taman kanak-kanak yang menjadi pusat kontroversi, yang berafiliasi dengan Kid Castle Educational Institute, diminta oleh pihak berwenang untuk tutup sementara.

Kepala sekolah dan lima guru sempat ditangkap dan diinterogasi oleh polisi, tetapi mereka dibebaskan dengan jaminan, menurut laporan. Para direktur institut tersebut, didenda $4.872.

Kasus ini pertama kali terungkap pada bulan April dan Mei, ketika beberapa orang tua curiga guru memberikan obat-obatan kepada anak-anak mereka.

Sejak itu, para orang tua membawa anak-anak mereka ke rumah sakit untuk diperiksa.

Laporan mengatakan, puluhan siswa dinyatakan positif menggunakan obat-obatan tersebut.

Pejabat setempat belum menyebut jumlah pasti kasusnya.

Beberapa laporan mengatakan, delapan siswa diduga diberi obat-obatan, sementara laporan lain mengatakan ada 20 siswa yang menjadi korban.

Surat kabar lokal Taipei Times melaporkan, bahwa guru TK di distrik Banciao New Taipei City diduga memberi anak-anak fenobarbital untuk membuat mereka lebih tenang dan menurut.

Aktivis di Taiwan memprotes transparansi pemerintah atas kasus dugaan murid TK diberi obat-obatan

Rumah Sakit Umum Taipei pekan lalu menambahkan pemeriksaan fenobarbital dan benzodiazepin dalam pemeriksaan standar untuk anak-anak prasekolah.

Pemerintah dituduh menunda penyelidikan atas masalah tersebut, yang telah memakan waktu lebih dari tiga minggu setelah pertama kali menerima laporan tentang anak-anak yang dicekoki obat-obatan.

Direktur Jenderal Asosiasi Hak Anak Taiwan, Wang Wei-chun, mengorganisir unjuk rasa dengan tagline “Jangan membius dan menyakiti anak-anak kami” selama akhir pekan.

Claire Wang, seorang politikus lokal dari New Power Party, menuntut pemerintah kota mengadakan tes narkoba di kampus dan mengadakan konsultasi dengan orang tua.

Sebagai informasi, obat yang mengandung fenobarbital digunakan untuk mengontrol kejang.

Fenobarbital digunakan untuk meredakan kecemasan dan bekerja dengan memperlambat aktivitas di otak.

Menurut Pusat Pemantauan Obat dan Kecanduan Obat Eropa, benzodiazepin banyak digunakan dalam pengobatan untuk mengobati kecemasan dan insomnia. Obat itu berfungsi sebagai depresan sistem saraf pusat.

Dalam kasus terpisah pada hari Senin, empat dokter di Taiwan didenda karena meresepkan obat barbiturat secara tidak tepat untuk mengobati penyakit seperti flu biasa, termasuk pada bayi. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Taiwan
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.