• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Orang Tua Ditahan di Kamp China, Ribuan Anak Uighur Hidup di Panti

by Redaksi Asiatoday
October 18, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bagaimana China Mencuci Otak Warga Uighur?

Warga Uighur yang ditahan oleh China. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Peneliti Adrian Zenz mengungkap temuannya terkait nasib anak-anak etnis minoritas Uighur di provinsi Xinjiang, China.

Dalam temuannya itu, ribuan anak-anak etnis Uighur terpaksa hidup di panti asuhan akibat orang tua mereka ditahan di sejumlah kamp tahanan yang dibangun pemerintah.

Melansir The Guardian, Sabtu (17/10/2020), Adrian Zenz mengatakan, dari telaah dokumen pada 2018, ada sebanyak 9.500 anak-anak yang sebagian besar berasal dari etnis Uighur, yang bermukim di kawasan Yarkand menjadi “yatim” sementara orang tua mereka ditahan di kamp yang dibangun pemerintah China.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Dari data yang diunduh di Internet pada 2019 itu memperlihatkan paling tidak ada satu dari orang tua setiap anak-anak Uighur itu yang ditahan di kamp.

Sedangkan bagi orang tua anak-anak etnis Han tidak ada yang tercatat.

“Taktik Beijing adalah untuk mengendalikan kelompok minoritas di daerah yang bergejolak di Xinjiang dengan menggunakan cara pengendalian sosial jangka panjang melalui metode pelatihan di kamp-kamp tersebut. Di sisi lain, mereka juga berusaha meraih simpati dari generasi mendatang,” ungkap Zenz.

Anak-anak etnis minoritas di Xinjiang yang orang tuanya ditahan biasanya dititipkan di panti asuhan atau sekolah asrama dengan tingkat pengamanan tinggi. Mereka yang tinggal di asrama akan diawasi ketat, dan dipaksa untuk menggunakan bahasa Mandarin setiap waktu ketimbang bahasa ibu mereka.

Menurut Zenz, secara keseluruhan ada sekitar 880.500 anak-anak etnis minoritas di Xinjiang yang harus tinggal di asrama sepanjang 2019. Jumlah itu meningkat 76 persen dari dua tahun sebelumnya setelah pemerintah China memutuskan memperluas kamp-kamp tersebut.

Sampai saat ini pemerintah China dinilai tidak terlampau peduli dengan dampak dari pemisahan anak-anak etnis minoritas di Xinjiang dengan orang tua mereka yang ditahan di kamp, meski kebijakan itu terus menuai kritik.

Dari penuturan sejumlah saksi bisa disimpulkan bahwa kebijakan China adalah bentuk pemisahan anggota keluarga yang terstruktur.

Dari hasil studi itu Zenz menemukan anak-anak etnis minoritas yang sementara menjadi yatim dan harus tinggal di panti asuhan mulai dari umur satu tahun. Sebab, salah satu atau kedua orang tua mereka dipaksa masuk ke kamp tersebut.

Di sisi lain, sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah China untuk anak-anak etnis minoritas dimodifikasi dengan penambahan sejumlah perangkat, yakni sistem pengamanan berlapis yang tidak mudah ditembus, pagar sekolah yang dialiri listrik, serta sistem pengawasan dan patroli menyeluruh yang terkomputerisasi.

Merespon hal itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, membantah keras.

Dia menjuluki Zenz seolah mirip dengan ‘tentara bayaran’ yang disewa pemerintah Amerika Serikat untuk memojokkan China.

“Kami telah berulang kali menyampaikan bahwa masalah Xinjiang bukan soal hak asasi, diskriminasi etnis atau agama, tetapi soal pemberantasan kekerasan, terorisme dan separatisme,” kata Zhao dalam jumpa pers di Beijing pada Jumat kemarin.

“Tuduhan penindasan terhadap umat Muslim dan kejahatan terhadap kemanusiaan hanya dibuat-buat oleh kelompok yang tidak menyukai untuk memojokkan kami,” tegas Zhao.

Pada September lalu, Presiden China, Xi Jinping, menyatakan taktik yang dilakukan pemerintahannya di Xinjiang sudah tepat.

“Rasa kepemilikan, kebahagiaan dan keamanan di antara seluruh kelompok etnis di sana meningkat,” kata Xi.

Sejumlah pihak menuduh China menahan lebih dari satu juta etnis minoritas di Xinjiang dengan alasan pelatihan. Para peneliti menyebut cara itu adalah upaya China untuk menghapus peradaban etnis Uighur dan menekan populasi.

Akan tetapi, pemerintah China menyatakan upaya itu dilakukan untuk memerangi radikalisme, terorisme dan separatisme. (ATN)

Tags: Save UighurSolidaritas UighurUighur
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.