• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

PBB Putuskan Adopsi Traktat Perlindungan Biodiversitas Laut Lepas

by Redaksi Asiatoday
June 20, 2023
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
PBB Putuskan Adopsi Traktat Perlindungan Biodiversitas Laut Lepas 1

Kawasan perairan laut Kabupaten Biak Numfor, Papua. Dok

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah memutuskan mengadopsi sebuah perjanjian bersejarah yang bertujuan melindungi biodiversitas di laut lepas. Perjanjian tersebut telah dibahas dan didiskusikan selama lebih dari 15 tahun.

Delegasi dari 193 negara anggota PBB bertepuk tangan meriah seraya bangkit dari kursinya ketika duta besar Singapura untuk masalah laut, Rena Lee, yang memimpin negosiasi, memukulkan palunya setelah mendengar tidak ada keberatan atas persetujuan perjanjian perlindungan kehidupan laut lepas, Senin (19/6/2023). Perjanjian tersebut akan terbuka untuk ditandatangani di markas besar PBB selama dua tahun mulai 28 September mendatang.

Perjanjian akan mulai berlaku setelah diratifikasi oleh 60 negara. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengapresiasi pengadopsian perjanjian tersebut. Menurutnya, perjanjian itu hadir pada saat kritis karena lautan terancam di banyak bidang.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Penangkapan ikan dan eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan termasuk dalam bentuk ancaman. Sebab kegiatan semacam itu dapat merusak keanekaragaman hayati laut.

“Lebih dari sepertiga stok ikan dijaring pada tingkat yang tidak berkelanjutan. Dan kita mencemari perairan pesisir kita dengan bahan kimia, plastik, dan limbah manusia,” kata Guterres.

Oleh sebab itu dia menilai perjanjian perlindungan kehidupan laut lepas sangat penting untuk mengatasi ancaman-ancaman tersebut. Dia menyerukan negara-negara tidak menyia-nyiakan upaya guna memastikan perjanjian itu ditandatangani dan diratifikasi sesegera mungkin.

The Alliance of Small Island States mengungkapkan, mereka telah memperjuangkan perjanjian perlindungan kehidupan di laut lepas selama beberapa dekade. Mereka menilai, pengadopsian perjanjian itu dapat memiliki implikasi luas pada mata pencaharian, budaya, dan ekonominya masing-masing.

Perjanjian itu akan membentuk kerangka hukum untuk menciptakan suaka laut yang luas di perairan internasional. Perjanjian turut menetapkan prinsip untuk berbagi ‘sumber daya genetik laut’ yang ditemukan oleh para ilmuwan di perairan internasional.

Itu merupakan permintaan utama negara-negara berkembang yang bersikeras bahwa hasil penemuan semacam itu tidak dapat dikontrol hanya oleh negara-negara kaya yang memiliki dana untuk membiayai ekspedisi dalam proses pencarian sumber daya genetik laut.

Direktur High Seas Alliance Rebecca Hubbard menyambut langkah PBB mengadopsi perjanjian perlindungan kehidupan di laut lepas.

“Negara-negara sekarang harus meratifikasinya secepat mungkin untuk memberlakukannya sehingga kita dapat melindungi lautan kita, membangun ketahanan kita terhadap perubahan iklim, dan melindungi kehidupan dan mata pencaharian miliaran orang,” katanya.

Sementara itu, organisasi lingkungan Greenpeace mengatakan, pengadopsian perjanjian tersebut merupakan kemenangan bagi semua kehidupan di bumi.

“Ilmunya jelas, kita harus melindungi setidaknya 30 persen lautan pada tahun 2030 untuk memberi kesempatan pada lautan untuk pulih dan berkembang,” ujar Chris Thorne dari tim kampanye perlindungan lautan Greenpeace. (AP)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: BiodiversitySave OceanUnited Nations
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.