• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Perusahaan China Diinstruksikan tak Beli Kapas dari Australia

by Redaksi Asiatoday
October 16, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Hubungan Memburuk, China Larang Warganya ke Australia

China dan Australia. Ist

ASIATODAY.ID, SYDNEY  – Pabrik pengolahan kapas milik perusahaan China diinstruksikan untuk berhenti membeli bahan baku kapas dari Australia. Informasi itu disampaikan seorang narasumber dari pemerintah Negeri Kangguru, Jumat.

Instruksi itu menandai hubungan China dan Australia yang kian dingin.

China merupakan pembeli terbesar untuk bahan baku kapas Australia. Total nilai dagang produk kapas mencapai kurang lebih 900 juta dolar Australia (sekitar Rp9,37 triliun) untuk tahun produksi 2018/2019.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

Hubungan Australia dan China dalam beberapa tahun terakhir ini merenggang setelah Canberra menuduh Beijing ikut campur urusan dalam negeri Australia.

Relasi dua negara kian memburuk setelah Perdana Menteri Australia Scott Morrion mendesak komunitas internasional untuk menyelidiki asal usul Covid-19, yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China, akhir tahun lalu.

“Pabrik itu tentu mendapat kuota impor dan mereka menerima informasi bahwa mereka tidak akan mendapat kuota impor tahun depan jika membeli kapas kami,” kata seorang pejabat Pemerintah Australia yang menerima informasi tersebut dari sejumlah perwakilan Australia di China.

Sumber itu mengatakan, jika perusahaan China tetap membeli kapas dari Australia, mereka akan diwajibkan membayar 40 persen tarif/bea masuk.

Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham lewat surat elektronik mengatakan pemerintah “mengetahui adanya perubahan pada syarat dan ketentuan ekspor” kapas.

Kedutaan China di Australia belum menanggapi pertanyaan terkait masalah tersebut. Birmingham memperingatkan China agar tidak membatasi aktivitas dagang para pelaku usaha.

“Pembatasan terhadap kemampuan produsen untuk berkompetisi pada level yang setara dapat menjadi potensi pelanggaran dagang internasional, yang akan ditanggapi secara serius oleh Australia,” kata Birmingham.

China membatasi pembelian katun Australia beberapa hari setelah Canberra mengonfirmasi laporan bahwa Beijing menangguhkan rencana pembelian batu bara dari Australia.

Otoritas dagang di China pada Mei 2020 juga mengenakan tarif antidumping dan anti subsidi terhadap 80,5 persen gandum asal Australia, yang total nilai dagangnya mencapai miliaran dolar AS. China pada Selasa (13/10) mengatakan pihaknya telah memulai penyelidikan antidumping untuk produk wine yang diimpor dari Australia. (Reuters /antara)

Tags: AustraliaChina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.