• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

PMI Indonesia Terendah di ASEAN, Pemulihan Ekonomi Sulit Diprediksi

by Redaksi Asiatoday
May 4, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Penerimaan Cukai Tembakau di Indonesia Capai Rp88,97 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati menerangkan pemulihan ekonomi Indonesia pasca-pandemi coronavirus (covid-19) masih sulit diprediksi. Hal ini bisa dilihat dari perkiraan pertumbuhan ekonomi oleh sejumlah lembaga ekonomi global yang sangat bervariasi.

“Sampai hari ini tidak ada yang tahu seberapa lama dan seberapa dalam covid-19 ini akan memengaruhi perekonomian, Indonesia” terang Sri Mulyani dalam rapat virtual dengan Badan Anggaran DPR di Jakarta, Senin (4/5/2020).

Menurutnya, virus corona tidak hanya menyebabkan masalah dari sisi kesehatan tetapi juga sosial dan ekonomi. Bahkan perkiraan recovery ekonomi yang sebelumnya bisa terjadi pada 2021, namun kini disebut tidak akan secepat dan sekuat yang diperkirakan sebelumnya.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

“Tidak ada yang tahu berapa lama shutdown akan terjadi, kapan akan ada pembukaan kembali aktivitas, apakah aktivitas berjalan normal kembali. Sehingga semua forecast ini semuanya pasti memiliki apa yang disebut asumsi yang membedakan,” paparnya.

Sri kemudian merujuk prediksi sejumlah lembaga ekonomi global yang menyatakan ekonomi akan terkontraksi. JP Morgan menyebut di 2020 ekonomi akan tumbuh minus 1,1 persen, The Economist prediksi minus 2,2 persen, Fitch perkirakan minus 3,9 persen, dan IMF memprediksi pertumbuhan global negatif tiga persen.

Untuk Indonesia, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini antara minus 3,5 persen sampai dengan 2,1 persen. Menurut ADB, ekonomi Indonesia tumbuh 2,5 persen, Moody’s prediksi tiga persen, dan IMF perkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 0,5 persen di 2020.

Meski begitu, ekonomi Indonesia diprediksi recovery pada tahun depan. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 antara 5,2-5,6 persen, ADB prediksi lima persen, Moody’s prediksi 4,3 persen, dan IMF prediksi 8,2 persen.

Indeks Manufaktur Terpuruk

Pada kesempatan itu, Sri juga menyebutkan posisi Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami penurunan hanya dalam kurun waktu sebulan. Pada April, PMI Indonesia tercatat di angka 27,5 turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya 45,3.

“PMI Indonesia turun drastis menjadi 27,5, di bawah 50 kontraksi. Bulan lalu masih 45,3 ini pemburukan puncaknya terjadi pada April,” jelasnya.

Kontraksi PMI Indonesia merupakan yang paling dalam dibandingkan negara lain di ASEAN. Hal ini harus diwaspadai bersama, apalagi penurunan PMI ini juga lebih dalam jika dibandingkan dengan Jepang maupun Korea Selatan.

Penurunan PMI Indonesia diprediksi berlanjut sampai dengan Mei ini. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap kinerja impor yang juga mengalami kontraksi. Bahkan penurunan PMI Indonesia bisa menjadi sinyal meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Indonesia mengalami kontraksi impor minus 3,7 persen seiring kontraksi industri manufaktur. Meskipun inflasi masih tetap terjaga di bawah tiga persen dan sampai hari ini tercatat lebih dari 2 juta pekerja terkena PHK. Kemarin Menaker bilang lebih dari dua juta,” ungkapnya.

Di sisi lain, penurunan PMI mendorong penjualan di sektor ritel mengalami pertumbuhan negatif sebesar 5,4 persen. Untuk itu, pemerintah perlu mengambil langkah cepat demi menjaga agar penurunan ini tidak semakin menjalar sektor lainnya.

“Dibutuhkan langkah-langkah cepat untuk menciptakan bantalan sektor kesehatan, sosial, ekonomi, dan keuangan. Karena dampak yang tinggi bisa menyebabkan ekonomi drop,” tandasnya. (ATN)

Tags: Industri ManufakturKrisis EkonomiManufakturPurchasing Managers IndexResesi EkonomiResesi GlobalSri Mulyani Indrawati
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.